Loading...

Friday, November 27, 2009

Perang Tondano I

Berikut ini saya menyajikan dua tulisan yang menceritakan tentang Perang Tondano Pertama. Maksud dari penyajian sejarah ini tentu saja bukan sekedar berkisah tentang sejarah, melainkan juga untuk menggugah bagian diri kita yang mungkin selama ini kita sadari ada namun tak memahaminya. Penilaian kritis diperlukan untuk bisa menganalisa jalan cerita dari kejadian yang telah lama terjadi di bilangan waktu ini. Tidak ada salahnya bila terjebak dalam pertanyaan, karena diperlukan pertanyaan untuk sebuah jawaban. Saya berharap fakta sejarah tentang Perang Tondano dapat memberikan orang Minahasa pada umumnya dan orang Tondano pada khususnya suatu semangat untuk membangun tanah dan manusia Minahasa untuk kebaikan dan kemajuan Minahasa, Indonesia, dan Dunia.


R. E. H. Kotambunan: (1)

“Memang sampai jatuhnya V.O.C. pada tanggal 31 Desember 1799 orang-orang Belanda datang ke Nusantara hanya untuk berdagang. Munculnya mereka di Minahasa adalah untuk mendapatkan padi dan beras yang mereka butuhkan. Mereka berusaha mendesak orang-orang Spanyol, yang melukai hati rakyat Minahasa, maka pada tahun 1644 berangkatlah delapan orang pemimpin Minahasa ke Ternate untuk mendapatkan bantuan dari orang-orang Belanda.

Nama-nama kedelapan pemimpin itu tak disebut dalam buku-buku sejarah yang kami kenal. Misi mereka tak memperoleh reaksi dari orang-orang Belanda, yang telah bekuasa di Moluku.

Oleh sebab kekejaman orang-orang Tasikela alias orang-orang Spanyol makin meningkat, maka utusan kedua Minahasa yang terdiri dari Supit, Lontoh, Paat dan Lontaan bertolak lagi ke Ternate pada tahun 1653 [catatan kaki 17 – muka 83 De Minahassa. Haar Verleden een haar Tegenwoordige Toestand. N. Graafland deel I.]

Oleh permintaan raja Ternate, maka Gubernur Seroye mengirim kapal Egmont di bawah kapten Paulus Andriessen dengan tujuh puluh serdadu Belanda dan 50 orang Mardyeker dalam beberapa kora-kora Ternate menuju Minahasa. Rupanya orang-orang Ternate tak membantu dengan sepenuh hati. Hal itu berlaku sebagai akibat kekalahan pasukan gabungan Belanda.

Tertarik oleh adanya padi dan beras di Minahasa, maka orang-orang Belanda berusaha memenuhi permintaan bantuan suku-suku Minahasa.

Gubernur Jacob Hustardt sesuai dengan surat dari Betawi bertanggal 10 Juli 1655 berhasrat mendirikan suatu benteng kayu di Manado. Baharu penggantinya gubernur Simon Cos menginsyafi akan perlunya cita-cita Jacob Hustardt dilaksanakan, sebab orang-orang Spanyol di bawah pimpinan Mayor Aytomara meneruskan dengan sekuat tenaga pendudukan Minahasa. Simon Cos pribadi menuju ke Manado dan mendirikan pada mulut sungai Manonga Labo sebuah benteng kayu yang dihuni oleh Paulus Andriessen dengan delapan orang serdadu.

Oleh bantuan orang Belanda, maka suku-suku Minahasa menolong orang Belanda mendapatkan padi (beras). Akan tetapi seperti halnya dengan semua tanam-tanaman, tak selalu panen padi memuaskan. Itulah sebabnya, maka permintaan orang-orang Belanda akan padi (beras) yang makin meningkat tak selamanya dapat dipenuhi oleh penduduk pribumi Minahasa.

Rupa-rupanya pegawai-pegawai V.O.C. yang banyak berwatak kasar, sebab ada di antaranya orang-orang petualang, hendak memaksakan kemauan mereka kepada suku Tondano, yang mengasihi kebebasan, seperti salah satu sifat mereka, telah mengakibatkan suku Tondano merontak dan berperang melawan Belanda. Terjadilah pada tahun 1661 (Perang Tondano Pertama).

Gubernur Moluku mengirim empat buah perahu besar berisikan enam puluh lima serdadu Belanda dan beberapa orang Mardycker. Dikisahkan bahwa pasukan Tondano terdiri atas 1400 orang dengan senjata serba primitive. Mereka berhadapan dengan musuh bersenjatakan bedil dan meriam. Walaupun orang-orang Tondano berperang laksana anoa dan kalawatan, mereka harus mengakui keunggulan musuh.

Kepada orang-orang Tondano dituntut: [catatan kaki 18 – Muka 18, 19 De Geschiedenis van Minahassa tot 1829 ddor Dr. E. A. Godee Molsbergen.]
1. Untuk meninggalkan kediaman mereka di hulu sungai Tondano dan bermukim di pantai.
2. Untuk menyerahkan pemimpin-pemimpin mereka kepada V.O.C.
3. Untuk menyerahkan kepada V.O.C. lima puluh atau enam puluh orang budak, sebagai biaya perang dan padi (beras), yang mereka tak serahkan kepada V.O.C.
Menurut orang Belanda Ekspedisi itu sangat berhasil dan membuat orang Tondano tenang, yang kami peribadi sanksikan.”

F.S. Watuseke: (2)

“Tahun 1657 V.O.C. mendirikan sebuah loji di Manado. Belanda sebelumnya sudah pernah mengunjungi Minahasa. Maksud mereka yang utama ditujukan pada perdagangan beras (1607-1608). Pada tahun 1614 Belanda menempatkan suatu kekuatan yang terdiri dari tujuh serdadu di Manado, yang ditinggalkan beberapa waktu kemudian.

Pada tahun 1653 mereka datang pula untuk mengambil beras. Pada tahun 1644 dan tahun 1654 mereka dimintakan membantu Minahasa melawan Spanyol. Pada permintaan kedua kali Gubernur Simon Cos tidak menunda lagi untuk mendirikan sebuah benteng, karena ia melihat Aytomara melanjutkan terus pendudukan Spanyol di Minahasa. Cos pergi ke Manado dan melaksanakan pendirian benteng (De Nederlandsche Vastigheid) itu di dekat sungai Tondano. Pimpinan benteng itu diserahkan pada Paulus Andriessen, yang menjadi residen Belanda yang pertama di Minahasa.

Kedatangan Belanda tak dapat diterima oleh beberapa suku Minahasa, istimewa suku Tondano yang menaruh simpati pada Spanyol. Simon Cos mengadakan ekspedisi di Minahasa dan menaklukkan negeri-negeri yang tidak menghendaki orang Belanda. Mereka yang melawan terpaksa mengungsi atau bergabung pada suku Tondano.

Untuk menyerang negeri Tondano (di atas danau), maka Simon Cos memperlengkapi 4 perahu besar dengan 65 serdadu. Sebaliknya kekuatan Tondano ditaksir kurang-lebih seribu empat ratus orang. Raja Manado membantu Belanda.

Dalam menghadapi perang itu Belanda mengemukakan dua syarat:
1. Orang Tondano harus meninggalkan negeri mereka yang terletak di atas air.
2. Pemimpin-pemimpin Tondano harus diserahkan pada Belanda.

Akhirnya Tondano kalah dan senjatanya diserahkan pada Belanda di Manado dan Benteng Tondano dirombak. Negeri Tondano di atas air ditinggalkan dan dibakar.”

Dalam penuturan Kotambunan, perang Tondano yang pertama disebabkan oleh perlakuan V.O.C. kepada orang-orang Tondano. Banyak pegawai-pegawai V.O.C. yang berwatak kasar, di antara mereka adalah orang-orang petualang yang keinginannya adalah memaksakan kehendak pada orang-orang Tondano, sehingga orang-orang Tondano mengangkat senjata melawan Belanda.

F. S. Watuseke menyebut tentang sikap simpatik orang Tondano terhadap Spanyol dan ekspedisi Simon Cos untuk menaklukkan negeri-negeri yang tidak takluk pada mereka, ia tidak menyebut tentang tuntutan ketiga dari Belanda terhadap orang Tondano yakni untuk membayar kerugian Belanda akibat perang itu.

Pihak Tondano tidak menyanggupi tuntutan Belanda dan perang terus berlanjut dengan kekalahan di pihak Tondano.

0 comments:


Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts