Friday, March 25, 2011

GEREJA SENTRUM TONDANO

Facebook: Post by Bert Toar Polii on Thursday, February 25, 2010 at 8:30am


Pada tahun 1831, Tondano di pilih menjadi “pusat” stasiun agama Protestan. Pada waktu itu Tondano dihuni sekitar 4.000 jiwa. Riedel menempati posnya di Tondano pada tanggal 14 Oktober 1831. Dia dilantik oleh Ds. G.J Hellendoorn dihadapan kedua walak dan masyarakat setempat. Pada tahun yang sama di dirikan gerja kayu kecil dan kemudian pada tahun 1937 diganti dengan yang baru dan lebih besar. Gereja baru ini dapat menampung sekitar 400 an orang.

Pada tahun 1854 terjadi gempa bumi yang hebat dan meluluh lantakan gereja di Tondano. Masyarakat terpaksa melakukan ibadah di gereja darurat hingga tahun 1867. Selanjutnya baca notes : Wanita Minahasa Sejajar Dengan Pria Sejak Dulu http://www.facebook.com/note.php?note_id=249970482556&comments#!/note.php?note_id=302272072556

Rencana pembuatan gereja baru kemudian disusun. Pekarangan sekolah MULO (sekarang SMP) di siapkan. Tetapi, pada tahun 1864 halaman tersebut digunakan untuk “Sekolah anak lelaki kepala-kepala bumiputra (School voor Zonen van Inlandsche Hoofden) atau juga disebut Sekolah Radja. Gedung sekolah ini dilengkapi dengan perumahan guru.

Dengan gagalnya rencana ini maka jemaat Tondano mengambil langkah dengan “biaya sendiri” (perlu menjadi catatan tersendiri) untuk membeli se bidang tanah. Atas pengawasan dari Zendeling Hessel Rooker maka pembangunan gereja di sebelah dari lokasi yang direncanakan sebelumnya. Pembangunan gereja selesai pada bulan Oktober 1884 atau sekitar 20 tahun. Suatu hasil jerih payah melalui pengorbanan dan kerja keras serta ditopang dengan doa terwujutlah rumah ibadah yang layak.

Groote Kerk te Tondano 1910 (gereja sentrum tondano tahun 1910)
dari album tempo doeloe Rommy Toar Nonutu

Ikhtisar Ringkas Gedung

Bagian Depan :
Menghadap barat serta beratap miring kedepan, dari samping maupun belakang di tunjang dengan tiang-tiang penguat. Sepanjang lebar gedung di beri serambi dengan lebar 2,5 meter dan langsung bersambung dengan tangga semen dan yang melalui tiga jalan masuk ke bagian serambi. Pada ketiga jalan ini diberi tudung yang langsung bersambung dengan atap utama. Disini pula terdapat tiga buah pintu masuk ruangan ibadah. Demikian pula dengan serambi bagian utara maupun selatan.
Di bagian belakang terdapat sebuah kamar berukuran 7 x 6 m dengan dinding yang sama tinggi dengan gedung gerja beserta atapnya menjadi satu. Dari kamar dilengkapi sebuah tangga menuju ruangan di atas langit-langit gereja. Dihadapan kamar ini terdapat pintu belakang dari gedung.

Bagian dalam :
Berbentuk empat persegi memanjang dengan ukuran 30 x 22 m. Tinggi dinding 6,5 m tetapi karena bentuk langit-langit melengkung hanya menunjukan ketinggian 5,5 m. Tinggi dinding dalam ruangan indah dan rapi seluruhnya satu/enteru (een geheel).

Bagian depan tidak memiliki jendela (berhubung dengan adanya 3 pintu masuk), hanya sebelah menyebelah gedung pada kiri kanan setiap pintu terdapat jendela bundar (vlugge vensters).
Pada dinding bagian belakang gedung, disebelah menyebelah pintu terdapat dua jendela. Demikian pula dengan kamar tambahan memiliki jendela dua buah serupa yang terdapat pada gedung induk.

Bagian tengah gedung dilingkari dengan enam belas belas buah tiang penunjang yang menembus lantai serta melengket dan masuk ke landasan untuk penahan. Bagian atas tiang-tiang ini melewati lengkungan , dimana sambungan terjadi, sehingga dari dalam gereja samasekali tidak terlihat balok-balok sambungan. Bidang tengah ini berukuran panjang 20 M dan lebar 12 M dengan demikian keempat bidang samping berukuran 5M (catatan: bagian dalam gereja berukuran panjang 30 M dan lebar 22 M).

Karena keadaan bentuk sambungan lengkungan diatas, maka lengkung itu sendiri menyerupai lengkung pipih. Seluruh pinggiran berada 1 M dibawah ukuran dinding yang sebenarnya, dan jatuh bersamaan dengan bidang-bidang samping dari langit-langit yang melengkung. Langit-langit itu sendiri lebar 3M, pipih dan pada jarak 1 M dari dinding samping dan bagian tengah, melengkung. Sambungan lengkung seperti ini sangat indah dipandang.


Di bawah lengkungan pada dinding luar maupun yang terdapat di dinding tengah pada bagian samping, diberi lis lebar, sedangkan tiang-tiang penunjang sedikit dibawah lis tersebut dilengkapi hiasan yang biasa menghiasi ujung atas dari tiang (zuil) istana. Tiang-tiang penunjang dari bawah sampai pada ketinggian semester berbentuk sudut empat dan diberi lis sekelilingnya. Dari sini sampai pada ujung tiang agak lancip (taps) berbentuk segi delapan. Tiap tiang penunjang pada ketinggian 3,5 M diberi sebuah lingkaran (krans) yang terdiri dari delapan buah lampu dinding, demikian pula pada sekeliling dinding terdapat lampu serupa.

Setiap jendela, selain pada lengkungan, terbagi dua oleh lat tengah. Kedua bagian ini masing-masing terbagi tiga pula, dan diberi berkaca. Kaca bagian bawah adalah kaca kabur sedangkan dua kaca atas dari kaca biasa. Lengkungan diatas pintu-pintu, jendela-jendela maupun jendela-bulat (jendela ini untuk ventilasi) diberi kaca berwarna yang member efek aneh.


Protestantse kerk te tondano 1932
dari album tempo doeloe Rommy Toar Nonutu

Kursi khotbah terletak pada bagian belakang dari petak tengah, ditempatkan sedemikian rupa, sehingga tetap berada didalam petak tersebut sedangkan tangga bawah berada pada petak yang di belakang.
Kursi khotbah terletak diatas satu kaki yang diberi hiasan/ukiran, serta ber meja lengket (consoles) yang menjadi penunjang pula. Pada suasa terletak di atas empat tiang kecil yang berdiri bebas. Dengan sendirinya tangga menjadi penunjang penting. Tempat khotbah ini adalah yang terindah pada gereja ini, berdiri megah dan serasi dengn ukiran-ukiran di dalam gedung ibadah.

Bagian depan antara ke tiga pintu dan pada ujung-ujungnya pada bagian belakang dari pintu sampai pada kedua dinding samping, juga pada pintu-pintu samping sampai pada jarak 5 M dari belakang, terletak bangku-bangku berturut dari bawah ke atas.
Selanjutnya pada kedua samping pintu sampai pada jarak 5M dari dinding depan, terdapat sebuah bangku panjang sepanjang dinding dan sebaris bangku-bangku dilengkapi dengan meja. Jalan sempit memisahkan bangku bermeja ini dengan bangku yang panjang. Sedangkan pada ujung bangku yang lain terdapat tempat untuk berjalan. Jadi pada sepanjang baris tiang-tiang penunjang, diluar petak tengah ada sebuah jalanan.

Petak tengah tersusun kursi yang terbagi 3 bagian, bagian tengah terdapat 10 buah kursi, bagian samping sebelah-menyebelah 7 buah kursi dan petak tengah terdapat dua jalan kecil.
Kedua samping kursi khotbah tersusun kursi pula yang dengan sendirinya berbaris melintang. Dalam kesempatan khusus masih dapat ditambahkan 150 kursi lagi. Hal ini pernah terjadi ketika diadakan perayaan penobatan rumah ibadah ini. Pada saat itu pengunjungnya melebihi tempat yang tersedia sehingga dua buah kursi ditempati 3 orang. Pinggir kursi khotnah serta bangku untuk pembawa berita jemaat ditutupi dengan kain beludru dan berwarna hijau.
Gereja ini terkena pemboman sekutu pada perang dunia kedua. Gereja yang ada sekarang dibangun setelah perang usai dan sepertinya banyak kesamaan dengan bentuk gereja yang lama.

Sumber : Silsilah Keluarga Gerungan 1500-1990 di susun oleh Boeng Dotulong.


Gereja Sentrum Tondano sekarang
foto: tumetel_1331

0 comments:



Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts