Loading...

Friday, July 30, 2010

Riwayat Perang Tondano 1808-1809 dan Refleksinya Bagi Pembangunan Tondano1 Sekarang Ini

Oleh: Ray Maleke


Perang Tondano adalah peristiwa heroik yang harus diketahui oleh setiap orang Minahasa, terlebih khusus orang Tondano. Perang itu menunjukkan jiwa kepahlawanan, keksatriaan, dan patriotisme para pejuang dan rakyat Minahasa dalam menghadapi penindasan dan penjajahan orang-orang Belanda.2

Beberapa hal menjadi alasan hadirnya tulisan ini:

1. Merupakan hal yang ironis bagi orang Minahasa, terlebih khusus orang Tondano, jika ia tidak mengetahui tentang peristiwa bersejarah ini;3

2. perlu adanya penjelasan tentang fakta sejarah Perang Tondano 1808-1809 menyangkut pemimpin-pemimpin perang, terutama para teterusan (panglima perang) Korengkeng dan Sarapung;4

3. bahwa nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan dari peristiwa bersejarah itu mempunyai nilai yang tak terhingga untuk kita refleksikan bagi pembangunan Minahasa pada umumnya, dan Tondano pada khususnya, pada era (post)modern ini.

Secara garis besar tulisan ini tersusun sebagai berikut. Pertama-tama saya memberi gambaran umum tentang riwayat Perang Tondano yang mencapai klimaksnya pada tahun 1808-1809. Secara singkat saya menuliskan rentetan peristiwa yang bermuara ke sejarah Minawanua5 itu, dimulai dari kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Minahasa, kemudian alasan-alasan sampai timbul perang anti-kolonial paling dahsyat di Minahasa itu, dan bagaimana akhir dari perjuangan tersebut. Pada bagian akhir tulisan ini, saya menyajikan sebuah refleksi untuk kita renungkan bersama-sama sebagai Tou Minahasa, terlebih khusus Tou Toudano, yang memegang amanah budaya serta tongkat estafet pembangunan dan pemberdayaan Tou dan Tanah Minahasa yang berjaya.

Bangsa-bangsa Barat mulai datang ke kepulauan Nusantara pada abad ke-16 diawali oleh Portugis6 yang kemudian disusul oleh saingannya Spanyol. Pada tahun 1580 keduanya dipersatukan di bawah pemerintahan raja Spanyol. Dalam suatu persetujuan, pihak Spanyol diberikan hak untuk menempati Minahasa.

Spanyol menjadikan Minahasa sebagai pos logistik untuk kepentingan mereka di Filipina dan Maluku. Mereka telah menguasai Kali yang merupakan sumber beras, lalu mereka juga ingin memperoleh beras dari orang-orang Tondano. Spanyol telah memperhitungkan bahwa akan sangat merugikan jika mereka harus bertentangan dengan Walak Tondano. Mereka menyadari bahwa Walak Tondano sangat keras menentang pengaruh dari luar yang merugikan pihak mereka. Itu sebabnya Spanyol melakukan pendekatan dengan menawarkan persamaan hak dengan Walak Tondano.7

Seiring dengan penguasaan Spanyol terhadap perdagangan di Sulawesi Utara, rakyat Minahasa mulai ditindas dan diperlakukan semena-mena. Tindakan mereka menghina dan mengganggu rakyat, termasuk perlakuan mereka terhadap wanita, telah membangkitkan perlawanan rakyat Minahasa terhadap mereka.8

Pada tahun 1643, seorang serdadu Spanyol menampar Opo’ Lumi, Ukung Tu’a Toumu’ung,9 sampai jatuh karena ia menolak menerima Mainalo, seorang peranakan Spanyol-Tombulu, dijadikan raja di Minahasa.10 Oleh karena perlakuan itu, malam itu juga Lumi mengumumkan perang terhadap orang-orang Spanyol di wilayah Tombulu, serta memberitahukan hal tersebut ke tiga suku lainnya: Tonsea, Tontemboan, dan Tondano. Maka terjadilah pembunuhan dan penangkapan terhadap serdadu-serdadu Spanyol di tanah Minahasa.11 Orang-orang Minahasa yang telah muak dengan tindakan orang-orang Spanyol merasa senang karena mereka berhasil mengenyahkan orang-orang Spanyol yang suka memeras rakyat dan berbuat sesuka hati itu. Akan tetapi, mereka juga menyadari bahwa Spanyol tidak akan dengan mudah merelakan Minahasa.

Tahun 1651 Spanyol kembali muncul di Minahasa untuk mengambil beras di Kali. Kehadiran mereka membuat cemas rakyat Minahasa, sekalipun perasaan itu tak begitu kuat di Tondano. Walak Tondano membangun perkampungan mereka di atas air. Mereka merancangnya untuk melindungi diri dari serangan-serangan dari luar. Selain itu, Spanyol barangkali masih menganggap Tondano sebagai mitra dagang mereka. Yang jelas, tindakan Spanyol membunuh dua tonaas di Tataaran, telah menyakiti hati Walak Tondano.12

Pada waktu itu, Belanda merupakan kekuatan yang terus bersaing dengan Spanyol untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah Nusantara. Berpikir bahwa Belanda dapat memberikan bantuan kepada pihak Minahasa, pada tahun 1654, beberapa orang Minahasa berangkat ke Ternate untuk meminta bantuan Belanda.13 Ahirnya pada tahun 1657, Simon Cos, pengganti Gubernur Hustaard, setelah berhasil meyakinkan Gubernur Jenderal di Batavia akan posisi strategis Minahasa untuk kepentingan Belanda, datang ke Minahasa dan mendirikan sebuah benteng di Manado. Pada tahun 1659 Spanyol meninggalkan daerah Sulawesi Utara.

Para pemimpin Minahasa tentu saja berharap Belanda dapat menjadi sekutu dalam hubungan yang saling menguntungkan. Namun nampaklah bahwa Belanda juga tidak jauh berbeda dengan Spanyol, bahkan lebih parah. Rupanya mereka tak hanya ingin menjadi sekutu dan rekan dalam perdagangan tetapi juga penguasa yang semena-mena. Di mana-mana mulai terasa nafsu mereka mencampuri urusan-urusan walak-walak di Minahasa. Sangat disayangkan, ada juga kepala-kepala walak yang memang telah menggantungkan hidup mereka sebagai kaki-tangan Kompeni dengan menghisap darah kawanua mereka sendiri.

Kesewenang-wenangan Belanda terus mendatangkan penderitaan kepada banyak sekali rakyat Minahasa. Mereka menuntut pemasukan beras sekalipun panen tidak memuaskan. Mereka juga berlaku sesuka hati “hendak memaksakan kehendak mereka kepada suku Tondano yang mencintai kebebasan.”14 Tahun 1661 rakyat Tondano tidak bisa lagi menerima perlakuan tidak pantas itu, lalu menyatakan perang terhadap Belanda.


Orang-orang Belanda dengan dibantu oleh raja Manado datang menyerang orang-orang Tondano.15 Mereka mengultimatum orang-orang Tondano untuk meninggalkan negeri mereka yang dibangun di atas air, dan mengharuskan mereka menyerahkan pemimpin-pemimpin mereka. Namun orang-orang Tondano tetap pada pendiriannya, hal mana menampakan watak dan karakter mereka yang mencintai kebebasan. Konon pasukan Tondano terdiri dari 1400 orang dengan senjata tradisional, sementara Belanda dilengkapi dengan empat buah perahu besar (kora-kora) dengan 65 serdadu. “Walaupun orang-orang Tondano berperang laksana anoa dan kalawatan, mereka harus mengakui keunggulan musuh.”16 Senjata-senjata mereka terpaksa diserahkan kepada Belanda, dan benteng mereka dirombak. Rumah-rumah mereka di atas air kemudian dibakar.17 Orang-orang Belanda menganggap bahwa Walak Tondano sudah benar-benar ditaklukkan.

Tahun 1677-1679 merupakan masa penaklukkan di Sulawesi Utara oleh Gubernur Maluku, Robertus Padtbrugge, dan Sultan Ternate.18 Pada waktu inilah orang-orang Belanda mengadakan penandatanganan kontrak dengan kerajaan-kerajaan di Nusa Utara, Gorontalo, Limboto, dan republik Minahasa.19 Kontrak antara V.O.C dan Minahasa ditandatangani pada tahun 1679. Minahasa secara arbitrary diwakili oleh kepala-kepala walak (ukung): Pa’at, Supit, dan Pedro Ranty, sedang V.O.C diwakili oleh Padtbrugge.20 Isi perjanjian itu adalah:21

Minahasa berjanji :

1. mengakui V.O.C. sebagai tuannya untuk selama-lamanya.

2. akan membantu V.O.C.

3. akan memelihara Benteng Amsterdam di Manado dengan cuma-cuma.

4. akan membuat dan memelihara jembatan-jembatan dan pematang-pematang yang berguna bagi pemerintah V.O.C

5. akan berusaha mengadakan sebuah rumah kompeni yang luas serta gudang penyimpanan pakaian dan beras.

6. akan menyerahkan padi, yang setengah ditumbuk menjadi beras yang berkualitas.


V.O.C. berjanji :

1. melindungi semua kepala-kepala walak.

2. membebaskan Minahasa dari pajak.

3. tidak menuntut alat-alat kayu untuk diekspor,

4. kontrak ini berlaku juga untuk suku-suku Bantik, Tonsawang, Ponosakan dan Ratahan.


Lepas dari penafsiran perwakilan Minahasa yang menanda-tangani kotrak itu, ternyatalah bahwa kotrak perjanjian ini tidak disetujui oleh rakyat banyak, terutama mereka yang diperas habis-habisan untuk menyediakan padi dan beras untuk keperluan V.O.C. yang kebanyakan adalah kaum tani di pegunungan.22 Memang pemasukan beras dari orang-orang Tondano, termasuk Remboken dan Kakas Langowan sering kali tidak menuruti keinginan Kompeni dan petugas-petugasnya. Mereka tetap tidak bersimpati dengan Kompeni, sehingga mereka menjadi sasaran politik pecah belah dan sindiran sinis dari para penulis Belanda.23


Sampai tahun 1790, oleh hasil musyawarah rakyat, Pangalila, kepalawalak Tondano Toulimambot, menghentikan perdagangan beras dengan kompeni. Hal ini dikarenakan oleh panen yang kurang baik dan rakyat Tondano sendiri kekurangan makanan.24 Hal ini tentu saja dilihat sebagai pembangkangan oleh pihak V.O.C., dan di Tondano rakyat juga sudah mulai bersiap-siap dengan segala kemungkinan.

Pemimpin Belanda di Manado mulanya berpikir keras bagaimana mengatasi masalah ini. Akhirnya mereka meminta Pangalila datang ke benteng Belanda di Manado. Dengan beberapa alasan tipuan, Pangalila akhirnya bersedia datang ke Nieuw Amsterdam menemui Resident Schierstein. Di benteng itu ia ditangkap. Utusan yang lain yang ditugaskan untuk menyertai rombongan Pangalila segera memberitahukan kepada rakyat Tondano tentang apa yang telah terjadi. Amarah rakyat Tondano meluap-luap karena pemimpin yang mereka cintai itu telah diambil dari tengah-tengah mereka dengan licik.25

Sumondak, yang merupakan sahabat dari Pangalila,26 bersama rakyat Tondano mulai menyusun rencana untuk membalaskan dendam Pangalila. Utusan-utusan dikirim ke walak-walak lainnya dengan pesan untuk bersama-sama menghancurkan Belanda. Langowan, Tompaso, dan Kawangkoan telah menetapkan hati mereka untuk berperang melawan Belanda. Persiapan-persiapan perang sudah sedang diadakan, namun sayang rencana itu bocor oleh karena pengkhianatan dari dalam. Belandapun memainkan taktik liciknya sehingga perang tidak jadi dikobarkan. Orang-orang Tondano dan rakyat Minahasa pada umumnya memendam sakit hati mereka.27

Pada tahun 1793, George Frederik Durr ditunjuk sebagai Residen di Manado menggantikan Schierstein. Masa tugasnya merupakan mimpi buruk bagi kebanyakan rakyat Minahasa. Ia dikatakan “bajingan, perampok, buas, dan terlalu mata duitan.”28 Sekalipun masa tugasnya selesai pada 1802, keburukan pemerintahannya terus dirasakan sampai tahun 1825.29 Ia melukai hati orang Minahasa tak hanya dengan kelakuannya, tetapi juga dengan mengangkat Urbanus Matheos menjadi juru bahasa dan bahkan digelari “Bapa orang Minahasa,” pada hal ia sangat tidak disukai oleh kepala-kepala walak lainnya oleh karena kejahatan dan kelicikannya.30 Ia juga dianggap bertanggung-jawab atas penyergapan Pangalila di benteng Belanda di Manado.31

Bertumpuk-tumpuk penderitaan rakyat Minahasa oleh karena perlakukan orang-orang Belanda dan para ukung yang telah menjual diri dan rakyatnya. Rakyat Minahasa nyata-nyata mereka perlakukan dengan tidak berperikemanusiaan. Untuk mendapatkan beras dengan harga murah, rakyat dijejali dengan kain-kain atau bahan pakaian yang nantinya bisa dibayar dengan beras. Ketika panen menghadapi kegagalan oleh berbagai-bagai sebab, orang-orang Belanda dengan kejamnya menuntut pembayaran itu. Hal ini semakin menambah dendam rakyat Minahasa terhadap Belanda.32

Suasana di Minahasa sudah semakin memanas. Durr sendiri sudah menyadari bahwa sikap rakyat Minahasa semakin antipatik terhadap Belanda. Terlebih setelah ia ketahuan secara rahasia menyuruh membakar kampung Atep dan Kapataran di Pantai Timur Tondano. Tidak berhenti di situ saja, setelah melakukan pembakaran, para pesuruh Durr itu juga melakukan perampasan dan menculik beberapa wanita yang dibawa lari ke Kema. Hal ini tidak hanya dikecam Walak Tondano, tetapi juga walak-walak lainnya di Minahasa.33


Puncak dari segala kewenang-wenangan ini adalah ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memaksakan dua ribu pemuda Minahasa untuk menjadi tentara Belanda guna mempertahankan kedudukan Belanda di pulau Jawa dari serangan Inggris. Seluruh walak-walak di Minahasa menolak memberikan pemudanya menjadi tentara Belanda, terlebih lagi walak Tondano. Hal ini tentunya memancing reaksi keras dari pihak penjajah, terutama dari Residen Prediger, pengganti Durr. Namun kali ini, rakyat Minahasa tidak bisa lagi menerima perlakuan Belanda. Musyawarah para pemimpin Minahasa yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 1808 di tempat kediaman Matulandi di Tondano Touliang menghasilkan kesepakatan: tidak lagi memasok beras secara sukarela kepada kompeni, tidak mau lagi membiayai armada kora-kora karena perompakan masih terus berlangsung, menolak melaksanakan pemeliharaan benteng Belanda di Manado, menolak para pemuda Minahasa menjadi serdadu Belanda, dan menyatakan bahwa jika Belanda hendak memaksakan kehendak, Minahasa akan mengangkat senjata melawan Kompeni.34 Kesepakatan ini ditetapkan dalam sebuah upacara foso dengan mengangkat sumpah. Pada waktu itu, ukung Lontoh (Tomohon-Sarongsong) memegang sagu-sagu (sejenis tombak), Mamait (Remboken) menghunus parang, dan Matulandi (Tondano-Touliang) mengangkat lelutam (senapan).35

Setelah beberapa pertemuan lainnya terjadi, kembali di Pinawetengan diadakanlah suatu musyawarah besar di mana perwakilan-perwakilan dari Kakas, Sonder, Tompaso, Langouwan, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tounsawang, Kakaskasen, Toumbulu, Sarongsong Rumoong, Hon, Tombasian dan Tondano berkumpul. Oleh sebab Belanda telah memperalat beberapa pemimpin Tonsea, walak ini tidak mengirimkan wakilnya secara terang-terangan, sekalipun beberapa utusan dari Likupang, Talawaan, dan Kema datang secara sembunyi-sembunyi. Remboken sendiri yang sepenuhnya mendukung rencana itu tidak dapat mengirimkan wakilnya karena masalah internal antara pemimpin walak yang sedang terjadi.36

Setelah musyawarah itu, Tondano menjadi ramai dengan orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Minahasa dengan membawa berbagai bahan keperluan perbentengan. Mereka menggali parit dan membangun benteng dengan balok-balok besar serta kancingan-kancingan bambu yang sulit dilewati.37 Dua benteng di Tondano disebut Benteng Pa’pal, yaitu dari arah Danau Tondano, dan yang lain di sebelah Barat perkampungan Walak Tondano, disebut Moraya. Kepalawalak Korengkeng dan kepalawalak Sarapung ditunjuk sebagai panglima perang, dibantu oleh Tewu, Matulandi, Sumondak, Item, Walintukan, Komimbin, Rumapar, dll.38

Prediger berusaha melakukan pendekatan-pendekatan kepada rakyat Minahasa, baik secara persuasif maupun represif. Namun, pihak Minahasa telah menetapkan tekad untuk memerangi orang-orang Belanda yang tidak tahu diri itu. Akhirnya pada tanggal 14 Januari 1807, Prediger bergerak untuk menyerang benteng Minahasa di Tondano. Sebagai pemimpin pasukan Kapitein Hartingh dan dibantu oleh Wenderstijd, komandan pasukan Belanda di Tanahwangko. Datanglah sejumlah besar serdadu, yang diantaranya juga adalah orang-orang Minahasa yang ditugaskan oleh beberapa pemimpin Minahasa yang telah ditipu oleh orang-orang Belanda untuk berpihak kepada mereka.39

Pengatur siasat perang pihak Minahasa juga tidak mau kalah strategi. Situasi itu dimanfaatkan untuk memasukkan ke dalam pasukan musuh mata-mata yang juga berfungsi untuk mencuri perbekalan dan amunisi. Itulah sebabnya juga kepada seluruh waraney-waraney Minahasa yang sedang bergerak dalam pasukan musuh diberikan kode. Ketika pasukan di benteng Tondano hendak melancarkan tembakan-tembakan gencar ke arah pasukan musuh, mereka memberi isyarat, “Rumungku’ se Maesa!”40

Perlawanan Minahasa yang mencerminkan ke-Minaesa-an (persatuan) itu sangat sulit dihadapi oleh Belanda. Sehingga mereka mulai berpikir bagaimana cara untuk memecah belah persatuan itu. Mereka mulai membujuk atau mengancam walak-walak lain supaya menarik dukungan mereka terhadap Tondano.41 Ukung Lontoh dari Saroinsong yang terkenal berwatak keras dan pemberani menolak bekerja sama dengan Belanda. Lontoh adalah seorang pemimpin yang punya integritas tinggi. Ia menolak mengingkari sumpah perang dan bersama-sama Walak Tondano menghadapi Belanda sampai akhir.42

Belanda juga mendekati Walak Tondano, dengan harapan mereka akan menyerah. Juni 1808, Prediger mengutus Wenderstijd untuk menemui Korengkeng dan Sarapung, panglima perang Walak Tondano, tetapi mereka dicegah para waraney di Masarang yang secara tegas menyampaikan penolakan mereka terhadap kehadiran rombongan tersebut. Melihat upaya pendekatannya gagal, seiring dengan meredanya perjuangan-perjuangan anti Belanda di Ternate, maka panaslah hati Prediger untuk mendatangkan pasukan dari Ternate untuk melindas pasukan Minahasa. Datanglah sejumlah besar pasukan dari Ternate lengkap dengan peralatan perangnya.

Hal ini disikapi dengan serius oleh Minahasa, segera diadakan musyawarah tentang bagaimana menghadapi perang dahsyat yang sudah berada di depan mata. Pertemuan kembali diadakan di Pinawetengan. Beberapa hal menjadi perhatian khusus dalam pertemuan itu. Beberapa walak, terutama yang jauh dari Tondano atau berada dekat dengan perbentengan Belanda, menyampaikan kesulitan mereka dan mengusulkan jikalau mungkin peperangan dihentikan sementara untuk mengumpulkan bahan makanan dan mesiu. Walak Tondano tidak melihat itu sebagai pilihan dan mendesak supaya walak-walak lainnya tetap menjunjung tinggi sumpah perang yang telah diikrarkan bersama. Karena tidak dapat dicapai kesepakatan yang menyeluruh, maka ditetapkan bahwa:43

1) walak Tondano akan tetap melanjutkan perlawanan apapun resikonya,

2) walak-walak yang sudah tidak sanggup untuk meneruskan peperangan, supaya dapat memberi bantuan dalam pengadaan bahan makanan dan mesiu,

3) dan jikalau ada walak-walak yang tidak sanggup lagi untuk mendukung perang ini, supaya jangan sampai bekerja sama dengan Belanda.

Hanya dalam hitungan beberapa bulan setelah pertemuan itu, tiga belas walak menyampaikan keinginannya untuk bergabung dengan Prediger.44 Ia tentu saja menyambutnya dengan gembira, tanpa memperhitungkan bahwa ada di antara mereka masih tetap berada di pihak Tondano.

Penyerangan besar-besaran pun dipersiapkan. Prediger menganggap bahwa dalam sekejap mata perlawanan Minahasa di Tondano akan segera ditumpas. Namun perkiraan itu meleset jauh. Berbagai upaya untuk menembus pertahanan Tondano tidak berhasil. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Prediger tidak memperhitungkan bahwa laskar Tondano lebih menguasai medan rawa-rawa yang penuh dengan jebakan-jebakan alam itu. Belum lagi “hantu-hantu danau” yang menyiutkan hati serdadu-serdadu Belanda. Hantu-hantu danau itu sebenarnya adalah perisai yang dibuat dari pohon sagu dalam bentuk manusia, dibungkus dengan lumut dan tanaman air. Pada malam hari perisai ini dibiarkan mengambang di permukaan air, dan ketika sampai pada jarak tembak diangkat bersamaan dengan teriakan perang. Strategi itu membuat jumlah dan moral serdadu Belanda merosot.45 Akhirnya, dalam suatu penyerangan yang kesekian kalinya – masih dengan hasil yang sama – Prediger sendiri terluka kepalanya dihantam mesiu pihak Tondano. Ia kemudian digantikan oleh Jacob Herder, yang juga harus mengakui keunggulan pihak Tondano dalam strategi dan perlengkapan perang. Dalam laporannya ia menggambarkan bahwa “semangat tempur pasukan perlawanan sangat tinggi dan mereka memiliki persenjataan yang tidak kalah baiknya.”46

Pada akhir bulan Juli 1809, Marinus Balfour menjadi residen di Manado. Bersamanya tiba beratus-ratus serdadu bangsa Belanda dan pasukan Ternate di bawah pimpinan Lodewijk Weintre yang berambisi segera mematahkan perlawanan Minahasa di Tondano. Tanpa membuang-buang waktu, ia menyiapkan pasukannya untuk menyerang benteng pertahanan Tondano. Beratus-ratus perahu, rakit, dan sejumlah kora-kora penuh dengan serdadu-serdadu bersenjata lengkap mengepung pertahanan Minahasa. Walak Tondano bersama-sama dengan walak-walak lain yang tetap setia berpegang pada sumpah sudah melihat dan membaca situasi yang mereka hadapi, namun mereka tak tak tak merasa gentar sedikitpun. Satu-satunya yang menjadi kekuatiran mereka adalah bahan makanan yang sudah semakin menipis, karena jalur perbekalan telah dihadang oleh pasukan Belanda. Dalam situasi itu, semangat juang para pahlawan Minahasa masih tetap sama! Korengkeng dan Sarapung terus mengobarkan semangat pasukan Minahasa dan rakyat Tondano.

Pada subuh tanggal 4 Agustus 1809 pasukan Weintre mulai menyerang pertahanan pihak Tondano. Serangan yang tak pernah terjadi sebelumnya “didahului dengan gempuran-gempuran meriam yang berdentum-dentum dan bergema-gema tidak berkeputusan melanda serentak seluruh wilayah pertahanan dan perkampungan walak Tondano.”47 Suara bising dan menakutkan itu tak dapat membendung seruan heroik “I ayat un santi!”48 Balasan tembakan dari pihak Tondano serta deru langkah serdadu-serdadu Minahasa yang juga terdapat sejumlah wanita49 menyambut gelombang serangan yang seperti tak putus-putusnya dari pihak musuh. Tak jarang terdengar, “Rumungku’ se Maesa!” Peperangan di danau dan rawa-rawa berlangsung seru dan memiriskan hati. (Danau Tondano menyambut darah putera-puteri Minahasa dan juga para pembunuh dan penganiaya mereka, semoga kelak warnanya menjadi bening perdamaian.) Kegigihan waraney-waraney pihak Tondano Minahasa berhasil mempertahankan benteng dan wilayah pertahanan mereka. Sesekali serangan berani mati dilancarkan ke wilayah pertahanan musuh secara sporadis, membuat pasukan Weintre terkejut dan menderita kerugian.

Weintre yang telah terobsesi untuk melihat kehancuran pihak Tondano menjadi semakin agresif. Pada malam hari ia merencanakan serangan ke dua titik pertahan pihak Tondano, yaitu benteng Pa’pal dan Moraya. Pertempuran dahsyat tak terhindarkan. Dengan membawa panas hati dan kebencian yang berkobar-kobar Weintre masuk ke dalam pertahanan pihak Tondano.

Pekik suara perang yang bersaing dengan dentuman meriam dan senjata api itu kemudian berangsur-angsur menghilang bersama hembusan nafas terakhir para pahlawan Minahasa; menjauh dalam langkah mereka yang memasuki hutan-hutan belantara. Yang tertinggal di sana adalah suara tangisan anak-anak dan ratapan ibu-ibu, tatapan mata tua yang basah oleh air mata, keretak suara api memakan rumah-rumah dan tempat penyimpanan padi. Ketika pagi tiba tempat itu telah menjadi sunyi. Hanya asap yang menceritakan betapa dahsyat perjuangan itu serta harga yang telah dibayarkan.

Ketika matahari terbit seperti tanpa rasa bersalah, benteng-benteng pertahanan Tondano sudah hancur, perkampungan telah menjadi abu, dan air Danau dan sungai-sungai di Tondano sejenak menjadi merah. Semuanya itu menjadi tinta bagi materai keberanian dan semangat pantang menyerah rakyat Tondano, rakyat Minahasa, yang telah berjuang demi kebanggaan dan cita-cita mereka untuk hidup terhormat di tanah kelahirannya, tanah nenek moyang mereka.

Bagi Walak Tondano itu bukan semata-mata kekalahan, itu adalah kekalahan yang menunjukkan dirinya yang sejati dan harapannya bagi persatuan Minahasa yang sejati. Akan tetapi, bagi Weintre itu adalah kemenangannya. Dalam laporannya, ia menulis:50

5-7 Agustus 1809…Temanku Balfour, Tondano telah mengalami nasibnya yang naas pada tengah malam. Seluruh Tondano telah menjadi lautan api. Aku harapkan tidak ada sisa lagi dari Tondano ini. Mereka yang tidak sempat menyingkir itu terdiri dari orang tua yang sakit, wanita dan anak-anak. Mereka yang selamat dari amukan api, dihabiskan nyawanya oleh anggota-anggota pasukanku….yang penuh dengki dan haus darah, ingin membalas kematian rekan-rekannya yang tewas dalam pertempuran sebelumnya karena muntahan peluru orang-orang Tondano.

Saat menulis laporan ini, Tondano sudah menjadi tumpukan debu dan sama sekali hancur. Sehari setelah kemenangan kami, aku memerintahkan distrik-distrik (pakasaan-pakasaan) lain di Minahasa untuk membawa masing-masing 200 orang agar dapat membantu menghancurkan apa yang masih tersisa dan belum ditelan api, seperti kanon-kanon, tiang-tiang palisade yang terpancang di sekeliling kubu pertahanan mereka. Segala sesuatu, termasuk pepohonan, waruga-waruga aku suruh hancurkan agar kelak tidak akan kelihatan bekas bahwa ditempat ini pernah ada pemukiman orang-orang Tondano.

Alasanku melibatkan pakasaan-pakasaan dalam penghancuran sisa-sisa perkampungan orang Tondano ini, adalah untuk memperingatkan mereka di Minahasa akan nasib yang akan mereka alami bila berani menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Senjata-senjata yang dapat disita masih kurang banyak. Dan aku duga orang-orang Tondano telah menengelamkannya di danau. Selanjutnya aku akan mengejar pemimpin-pemimpin mereka yang sempat mengundurkan diri ke hutan-hutan di sekitar Kapataran….”
Tanggal 9 Agustus 1809 ia meneruskan laporan tersebut kepada atasannya Gezaghebber de Moluccas Rudolf Coop a Groen di Ternate: “ … Orang-orang Tondano yang congkak dan angkuh itu akhirnya dapat kita taklukkan.”51 Bagi Weintre, keinginan untuk tidak dijajah dan dieksploitasi adalah suatu tindakan yang congkak dan angkuh. Memang pihak Tondano telah dikalahkan, namun dapatkan seorang dengan senjata apapun mengalahkan keinginan untuk bebas dan merdeka?

Waraney-waraney Minahasa yang masih bertahan terus melakukan perang gerilya di hutan-hutan. Panglima perang Korengkeng bersama-sama Waworambitan (Rambitan), Lintang, Tampomalu, Pangau, Manueke bersama yang lainnya bergerilya di sekitar Pegunungan Lembean sampai pantai Timur Minahasa. Kelompok Matulandi dan Sumondak berangkat ke Kakas. Sementar Sarapung, Tewu, Item, Lontoh serta rekan-rekan mereka terus melakukan perlawanan di daerah sebelah Barat kota Tondano yang sekarang.52

Beberapa waktu kemudian Tewu dan Lontoh tertangkap dan dibuang ke Ternate. Item dan Sarapung dikabarkan meninggal di sekitar Tondano karena sakit. Korengkeng dikatakan mempimpin perang gerilya yang paling lama di hutan-hutan, sampai mereka dijuluki tou en talun (orang yang tinggal di hutan).53

Setelah Perang Tondano 1808-1809, orang-orang Tondano tersebar ke berbagai penjuru di Minahasa. Tahun 1810 ketika keadaan mulai mereda Hendrik Jacob Supit diberikan tugas oleh Residen Balfour untuk mengumpulkan rakyat Tondano yang mengungsi dan yang bergerilya. Akan tetapi, sebagian besar rakyat Tondano menolak untuk mengikuti ajakan Belanda itu. Pada tahun 1812, terdengarlah kabar bahwa Inggris telah mengambil alih kekuasaan Belanda di Minahasa. Untuk mengambil hati rakyat Tondano, pemerintah Inggris membawa pulang Tewu dan Lontoh dari Ternate ke Minahasa, serta membebaskan sejumlah besar tahanan di Tikala.54 Rakyat Tondano pun bersedia untuk kembali.


Setelah melalui upacara “luminga ko’oko’,”55 maka ditentukanlah lokasi pemukiman Walak Tondano yang baru, yaitu di kiri dan kanan Sungai Teberan (sekarang: Sungai Tondano). Pemerintah telah melarang Walak Tondano membangun kembali perkampungan di tengah rawa, sehingga tempat itu kemudian dikenal dengan Minawanua.


Refleksi

Sifat keberanian dan kecintaan terhadap tanah kelahiran yang ditunjukkan oleh para pejuang Minahasa, teristimewa Walak Tondano, dalam Perang Tondano 1808-1809 merupakan pengingat bagi rakyat Minahasa sekarang ini tentang bagaimana membangun Minahasa ke depan. Para pejuang ini, yang dalam semangat kepahlawanan tetap berpegang teguh pada kebenaran demi menegakkan suatu masyarakat yang bermartabat, sekiranya menjadi contoh bagaimana kita sebagai Tou Minahasa menyikapi pembangunan dan pengembangan Minahasa menjadi masyarakat yang adil dan sejahtera.

Cita-cita Minahasa tercermin dari budaya “mapalus” dan ungkapan filosofis Minahasa yang diangkat oleh Dr. Sam Ratulangi “si tou timou tumou tou” menunjukkan bahwa Tou Minahasa mendambakan kesejahteraan yang menyeluruh dan merata bagi semua keturunan Toar dan Lumimuut. Harapan ini juga dapat kita lihat dalam model demokrasi bangsa Minahasa yang menekankan dipilihnya pemimpin-pemimpin yang berkompeten, ulet, tangguh, dan mementingkan kepentingan rakyat, dan pada saat yang sama, menuntut sikap positif rakyat yang dipimpin untuk mendukung, mengkritisi, dan berpartisipasi untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Sayangnya, oleh karena penjajahan di Minahasa pada waktu lampau itu berhasil bertahan (atau dipertahankan), maka tentu saja pemaknaan nilai-nilai ini menjadi ancaman bagi agenda penjajahan pada waktu itu. Tak heran segala daya upaya dilakukan supaya segala kemungkinan munculnya sifat dan sikap mencintai tanah air (patriotisme) dan sikap menghargai pahlawan-pahlawan secara sistematis dihapuskan atau diracun. Di situlah terjadi bahwa pada saat dijajah secara fisik (diperas dan diperlakukan sebagai manusia kelas dua), manusia Minahasa juga dijajah secara mental dan psikologi, yang mana melahirkan generasi-generasi dengan jati diri yang samar-samar, kurang mempunyai orientasi kebanggaan akan diri sendiri dan identitasnya sebagai Tou Minahasa. Tidak berhenti di situ saja. Karakter luhur masyarakat Minahasa juga turut dikontaminasi dengan nilai-nilai penjajahan. Sikap menjilat dan memeras menjadi nilai moral yang dianjurkan, karena sesuai dengan agenda penjajahan. Sikap ini masih begitu kuat meracuni sistem kehidupan masyarakat Minahasa sampai saat ini, sehingga terlihat bahwa kemajuan Minahasa seakan-akan sebuah mimpi di siang bolong. Namun dengan menyadari bentuk penjajahan karakter yang masih terus menggerogoti masyarakat kita saat ini, maka kita dapat mengikrarkan tekad untuk bahu-membahu dalam membangun negeri. Semangat persatuan yang telah kita lihat merupakan kekuatan yang dapat mengatasi penjajahan itu harus dibangkitkan, dan kita belajar untuk tetapi menjaga integritas serta kesetia-kawanan dengan siap menghadapi segala resikonya. Kalau kita bersatu (maesaan), saling mendukung (matombo-tombolan), saling membantu (masawa-sawangan) dan malé’o-lé’osan (baku-baku bae) maka niscaya dapat tercapai apa yang diharapkan dan diimpikan oleh pejuang Minawanua: kemerdekaan yang sejati.

Tou Minahasa pantas bersyukur, karena investasi para pejuang Minahasa, terlebih khusus Walak Tondano, di masa Perang Tondano 1808-1809 dalam bentuk sebuah tonggak sejarah yang tidak bisa dihancurkan, dibredel, dimatikan, atau dikendalikan menurut kepentingan penjajah, tetap menjadi suatu petunjuk arah bagi Tou Minahasa tentang cita-cita luhur masyarakat Minahasa yang mengamanatkan kesejahteraan dan keadilan bagi Tou Minahasa secara terus-menerus, sampai pada akhirnya cita-cita luhur itu dapat tercapai.

Masyarakat Tondano khususnya perlu merasa bangga (tanpa menjadi sombong) oleh karena warisan semangat dan prinsip hidup yang telah ditunjukkan oleh para leluhur di Minawanua. Kita jangan pernah takut dikatakan “congkak dan angkuh” oleh siapapun yang tidak ingin melihat kita maju dan merdeka – merdeka dari kemiskinan, ketertinggalan, keterbelakangan, ketidak-adilan, keputusasaan, atau apapun yang coba membelenggu kita menjadi ‘setengah manusia'.”

Sama seperti kebebasan dari penjajah menjadi harga mati bagi para pejuang Minawanua waktu itu, maka kemajuan Tondano harus juga menjadi harga mati bagi kita semua. I ayat un santi!!!




Endnotes:

1 Refleksi tulisan ini dialamatkan pada subetnik Tondano secara khusus, akan tetapi perlu diberi catatan bahwa refleksi Perang Tondano 1808-1809 tidak terbatas pada orang-orang Tondano saja, tetapi merupakan milik Tou Minahasa pada umumnya.

2 Istilah “orang-orang” dipakai dan bukan “bangsa” untuk membedakan bahwa suatu “bangsa” tidak menjajah dan menindas bangsa lain, melainkan “orang-orang” dari bangsa itu, yang pada waktu dan tempat tertentu dalam sejarah bertindak sebagai penjajah dan penindas “orang-orang” dari bangsa lain.

3 Merupakan suatu hal yang memalukan dan memiriskan hati melihat kenyataan bahwa disekolah-sekolah kita sepertinya sejarah ini telah dikubur dan dilupakan (entah secara sengaja atau tidak, dan oleh siapa). Oleh karena itu, niat Prof. A. B. G. Ratu untuk memasukkan kisah Perang Tondano 1808-1809 ke dalam kurikulum sekolah patut kita dukung bersama (Lih. POSKO, 16 November 2009)

4 Marwati Djoened Poesponegoro (Sejarah Nasional Indonesia: Nusantara Di Abad Ke-18 dan ke-19. Jakarta: PT Balai Pustaka, 2008, h. 161) sedikit terkecoh dalam menyikapi sumber-sumbernya. Ia mengutip sebuah daftar hadir pertemuan Ukung se-Minahasa dari S. U. Marunduh (Konflik Minahasa Belanda 1807-1809, Yogyakarta, Tesis Magister S2 Program Pascasarjana Sejarah Universitas Gajah Mada, 1997, h. 25) di mana tercantum Ukung Korengkeng dan Sarapung di antara yang hadir pada pertemuan di rumah Matulandi yang berakhir pada sumpah perang melawan Belanda. Sayangnya ia kemudian menulis secara kontradiktif  “Jelas bahwa tanggapan itu bernada keras walau tidak didukung oleh seluruh walak. Sejumlah ukung walak tidak hadir, seperti Korengkeng, Sepang, Dotulong, dan Sarapung dari Tondano” (h. 164). Lebih jauh ia kemukakan: “Kemudian Prediger mencoba memecah belah para ukung Minahasa. Ia mengundang Korengkeng dan Sarapung yang pernah menyatakan bahwa mereka tidak akan bergabung dengan gerakan penolakan itu" (165). Hal ini menjadi kekurangan dalam tulisannya yang mampu menyajikan dengan baik semangat heroik para pejuang Minahasa dan Walak Tondano pada waktu itu.  Memang Prediger berusaha menyelesaikan masalah dengan mengusulkan perundingan dengan para pemimpin Walak Tondano, Korengkeng dan Sarapung, tetapi ia tidak dapat mempengaruhi mereka. Ia dua kali mengirim utusan kepada Korengkeng dan Sarapung, yang pertama Kapten Hartingh, kemudian Wenderstijd, Komandan pasukan Belanda di Tanahwangko, namun keduanya ditolak memasuki Tondano (Giroth Wuntu, Perang Tondano 1661-1809. Yogyakarta: Galang Press, 2001. h. 186-189).

5 Kata depan “mina-” dalam bahasa Tondano berarti “sudah, waktu lalu, sudah berlalu, sudah tidak ada lagi.” Kata ini dipakai untuk menyebut orang yang sudah meninggal. Secara harfiah “Minawanua” berarti “dulu merupakan perkampungan” (wanua: kampung, negeri). Pada Perang Tondano 1809-1809, tempat pemukiman Walak Tondano yang di tengah rawa-rawa di sebelah Barat Laut Danau Tondano dihancurkan oleh pasukan Belanda dan pembantu-pembantunya. Walak Tondano kemudian dilarang untuk membangun kembali lokasi pemukiman mereka di tempat itu sehingga tempat itu dinamakan Minawanua.

6 Tahun 1512 Minahasa telah dikenal sebagai "pulau" damar dan menghasilkan kayu cendana. Tahun 1523, pelayar Portugis Simao d' Abreu singgah di Manado dalam perjalanan dari Ternate ke kota Malaka melalui Kalimantan Utara dan Selat Malaka. Tahun 1563, utusan Portugis datang ke Manado dan membaptiskan 1500 orang, termasuk Raja Manado (F. S. Watuseke, Sejarah Minahasa. Percetakan Negara Manado: 1968. h. 17.)

7 Harry Kawilarang, Bermulanya Minahasa Dikenal Di Mata Dunia. http://www.theminahasa.net/history/stories/minahasapetaid.html. Akses 7 Juli 2007.

8 F. S. Watuseke, Opcit., 20.

9Sekarang “Tomohon.”

10 Rakyat Minahasa sejak dulu kala merupakan masyarakat egalitarian, dan tidak mengenal sistem monarki (kerajaan).

11 Menurut F.S. Watuseke (Ibid.) peristiwa ini terjadi pada tahun 1644; H. M. Taulu menyebut tulisan Pater Juan Yranzo, missionari Katolik yang lolos dari pembunuhan itu dan kemudian menulis Watu Pinatik di Kali, Pineleng, mencatat bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Agustus 1643. Dikatakan bahwa 44 orang dipancung, dimasak kemudian dimakan. (Bunga Rampai: Sejarah Dan Anthropology Budaya Minahasa. Cetakan IV. Manado: Tunas Harapan, 1981. h. 15).

12 Serdadu Spanyol membunuh dengan kejam dua tonaas Tondano, yaitu Mononimbar dan Rakian, di Tataaran (Giroth Wuntu, Opcit., h. 14.)

13 F. S. Watuseke. Ibid., 21; R. E. H. Kotambunan, mengutip Graafland, menyebut tahun 1653 (Minahasa II&III: Pemerintahan Purba Sampai Kedatangan V.O.C. Dan Tiga Perang Tondano. 1985. h. 44). Sebelumnya, pada tahun 1644 Raja Manado telah melakukan hal yang sama, namun tidak menghasilkan apa-apa (F. S. Watuseke. Ibid.).

14 R. E. H. Kotambunan, Ibid., h. 44.

15 F. S. Watuseke, Opcit., h. 22; David Henley (Jealousy and Justice: The Indigenous Roots of Colonial Rule In Northern Sulawesi. Amsterdam: VU Ulgeverij, 2002. h. 24) mengutip Godée Molsbergen (GM III: 384-5;1928:18-19, 64) mengatakan bahwa serangan Belanda itu didukung oleh banyak orang Minahasa lainnya. “In 1661, firstly, one part of upland Minahasa, Tondano, defied its new Dutch masters and was attacked by the VOC. So many other Minahasans joined in the attack, however, that with their help just 65 VOC soldiers quickly compelled the rebel force of fully 1400 men to surrender.”

16 R. E. H. Kotambunan, Opcit., h. 45.

17 F. S. Watuseke, Opcit., h. 22.

18 Ibid., 24.

19 Minahasa terdiri atas walak-walak yang independen dan dipimpin oleh ukung-ukung yang dipilih secara demokrasi.

20 F. S. Watuseke, Opcit., h. 25.

21 R. E. H. Kotambunan, Opcit., 26; Watuseke, Ibid.; Menyangkut status hubungan Minahasa dengan Kompeni ini memang ada perbedaan penafsiran. Kotambunan, mengutip Godée Molsbergen yang menyebut Een Contract van Bondgnootschap (perjanjian antara dua pihak atau lebih yang sama derajatnya) (Opcit. h. 28). Para pemimpin Minahasa menganggap bahwa kontrak perjanjian itu adalah antara dua pihak yang setara, sehingga merupakan suatu bentuk persahabatan (vriendschap), yakni Minahasa adalah sekutu kompeni (bondgenoot). Namun, pihak kompeni melihatnya sebagai perjanjian dengan Minahasa sebagai daerah bawahan Belanda (onderdaan) (Marwati Djoened Poesponegoro, Opcit., 157).

22 Wuntu, Opcit., h. 34.

23 Ibid., h. 43-44.

24 Ibid., h. 45.

25 Ibid., h. 46-55.

26 F.S. Watuseke, Opcit., h. 32; Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah saudara kandung dari Pangalila (Mis. Wuntu, Ibid., 48).

27 Wuntu, Ibid., h. 114-117.

28 H. M. Taulu, Opcit., h. 18.

29 F. S. Watuseke, Opcit., h. 32.

30 Lih. R. E. H. Kotambunan, Opcit., 48; bnd. Wuntu, Opcit., h. 81-82.

31 Wuntu, Ibid., h. 127.

32 R. E. H. Kotambunan, Opcit., h. 50.

33 Wuntu, Opcit., h. 137-138.

34 Marwati Djoened Poesponegoro, Opcit., h. 162-163.

35 Arti dari sumpah itu adalah jika yang mengikrarkan sumpah melanggar, maka ia akan dimakan oleh senjata itu.

36 Wuntu, Opcit.,162.

37 Balok-balok besar seukuran pelukan dua orang dewasa masih dapat ditemui di Minawanua saat ini.

38 Wuntu, Opcit., 160; Kepemimpinan Korengkeng dan Sarapung dalam Perang Tondano 1808-1809 dikonfirmasi oleh penulis sejarah Minahasa seperti F. S. Watuseke (Opcit., 34), H. M. Taulu (Opcit., 18); R. E. H. Kotambunan (Opcit., 52-53). Hal ini juga dikonfirmasi oleh rakyat Tondano sendiri sebagai pewaris sejarah perjuangan itu, tidak hanya lewat tulisan, sejarah lisan, tetapi juga dengan sebuah monumen di kelurahan Tu’utu. Dengan melihat bukti-bukti ini saya merasa kita perlu mengapresiasi apa yang dituliskan oleh Giroth Wuntu: “Mengenai buku-buku catatan dari para penulis barat ataupun cerita-cerita dari orang-orang tua, apa lagi dari mereka yang pernah menjadi kaki tangan penjajah, tidak bisa kita terima bulat-bulat” (Opcit, vi). Adalah masuk akal bagi saya untuk mengatakan bahwa para penjajah tidak ingin masyarakat Tondano memiliki figur pahlawan yang dapat memberi inspirasi bagi perjuangan melawan penjajah, bahkan sejarah kepemimpinan Korengkeng dan Sarapung hendak dibelokkan sedemikian rupa sehingga seolah-olah mereka adalah “pembantu” Belanda (bnd. Wuntu vi-vii).

39 Wuntu, Opcit., 170-171.

40 Ibid., 166.

41 Sejarah telah membuktikan bahwa ketika rakyat Minahasa bersatu, mereka bisa mengalahkan musuh-musuh mereka, namun ketika mereka terpecah, mereka menjadi lemah dan tak punya kekuatan apa-apa.

42 Wuntu, Opcit., 186-187.

43 Ibid., 190-191.

44 Ibid., 191-192.

45 Marwati Djoened Poesponegoro, Opcit., 169-170.

46 Ibid., 172-173.

47 Wuntu, Opcit., 212.

48 Dibaca: “iyayat nsanti” yang berarti “acungkan pedang ke atas!”

49 Wuntu, Opcit., 215.

50 Christy Manarisip, Refleksi 200 Tahun Minawanua, mengutip Eddy Mambu, SH, kutipan dari Bundel Ternate No. 116 Arsip Nasional dalam makalah “Pantang Mundur, Perang Tondano 1808-1809”, YKM Jakarta, 1986

51 Manarisip,Ibid.

52 Wuntu, Opcit., 225.

53 Ibid., 226.

54 Ibid., 230.

55 Artinya "mendengar suara burung." Ibid.



KEPUSTAKAAN
Henley, David. Jealousy and Justice: The Indigenous Roots of Colonial Rule In Northern Sulawesi. Amsterdam: VU Ulgeverij, 2002.

Kawilarang, Harry. Bermulanya Minahasa Dikenal Di Mata Dunia.
Akses 7 Juli 2007.

Kotambunan, R. E. H. Minahasa II&III: Pemerintahan Purba Sampai Kedatangan V.O.C. Dan Tiga Perang Tondano. 1985.

Manarisip, Christy. Refleksi 200 Tahun Minawanua, mengutip Eddy Mambu, SH, kutipan dari Bundel Ternate No. 116 Arsip Nasional dalam makalah “Pantang Mundur, Perang Tondano 1808-1809”, YKM Jakarta, 1986. (http://beritamanado.com/2009/05/18/refleksi-200-tahun-minawanua/#more-8">http://beritamanado.com/2009/05/18/refleksi-200-tahun-minawanua/#more-8)

Marunduh, S. U. Konflik Minahasa Belanda 1807-1809. Yogyakarta, Tesis Magister S2 Program Pascasarjana Sejarah Universitas Gajah Mada, 1997.

Poesponegoro, Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia: Nusantara Di Abad Ke-18 dan ke-19. Jakarta: PT Balai Pustaka, 2008.

Taulu, H. M. Bunga Rampai: Sejarah Dan Anthropology Budaya Minahasa. Cetakan IV. Manado: Tunas Harapan, 1981.

Watuseke, F. S. Sejarah Minahasa. Manado: Percetakan Negara Manado, 1968.

Wuntu, Giroth. Perang Tondano 1661-1809. Yogyakarta: Galang Press, 2001.


Koran:
POSKO, 16 November 2009 (http: index.php?option="com_content&task=view&id=5767&Itemid=1" news="" poskomanado.com="")

2 comments:

Anonymous July 31, 2010 at 9:17 AM  

Makase banya! Lewat ini tulisan kita so lebe mangarti tu sejarah Tondano.

My name is Prasetyo November 4, 2011 at 6:11 AM  

Luar biasa, saya baru mendapatkan cerita sejarah yg lama saya ingin ketahui. sangat di sayangkan banyak generasi muda Minahasa, khususnya Tondano yg tidak mengetahui hal ini. terima kasih Bung atas tulisannya ini, walau saya bukan orang minahasa , saya suka dengan sejarah Minahasa dan banyak mengambil pelajaran positif dari karakter pahlawan Minahasa. Sejarah ini HARUS menjadi bagian bahan pengajaran bagi siswa di Sulut !!


Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts