Loading...

Thursday, June 24, 2010

Mengenang Semangat Minahasa Yang Berkobar melampau Tubuh Yang Telah Terbaring Kaku

Pendahuluan Buku: PERANG TONDANO 1661-1809 oleh Girot(h) Wuntu edisi I.

Perang perlawanan rakyat Minahasa terhadap penjajah Belanda yang kita kenal dengan sebutan Perang Tondano, bukanlah baru sekarang ini ditulis atau dibicarakan. Di dalam buku-buku, catatan-catatan dan surat-suratan bangs a Eropa, terutama Belanda,banyak kita jumpai bukti-buktinya.

Bagi rakyat Minahasa sendiri Perang Tondano masih tetap merupakan suatu riwayat peperangan yang gagah berani dan paling utama, lebih dari ceritera-ceritera perang lainnya seperti perang dengan Bolaang Mongondouw, pertempuran-pertempuran melawan perompak Mangindanau 1) atau perang-perang antara Minahasa dan Spanyol. Istirnewa bagi rakyat penghuni dataran tinggi Tondano Langowan, terlebih-lebih di kota Tondano dan sekitarnya, di semua naasaren 2) atau tetambaken 3) mereka, di dalam sastera atau iramanya, getaran-getaran riwayat yang penuh seman gat persatuan dan kepahlawanan rakyat Minahasa ini, masih terus dikumandangkan dan tetap berapi-api.

Dengan menjauhkan diri dari kekakuan mengikuti buku-buku dan tulisan-tulisan asing di atas, kita tidak menjadi pembeo dan penjiplak, dan bertahan kukuh untuk tidak dapat diayun semau-maunya oleh ceritera-ceritera tua yang banyak membantu dalam usaha penyusunan buku ini. Kami bawakan riwayat perjuangan nenek moyang suku Minahasa ini kepada pembaca.

Memang, kelalaian dan tidak adanya kesungguhan-kesungguhan jugalah yang menjadikan salah satu dari riwayat-riwayat perang perlawanan bangsa kita terhadap penjajah, yaitu yang lazim kita kenal dengan Perang Tondano itu, seakan telah hilang-hilang timbul, hanyut oleh ombak dan arus perkembangan sejarah bangsa kita. Kita seharusnya dengan jujur dan berani mengakui, bahwa sampai kini memang masih saja sangat kurang, bahkan khusus untuk penyelidikan-penyelidikan tentang Perang Tondano itu sendiri malah tidak/belum ada) usaha-usaha yang lebih bersungguh-sungguh dari pihak yang berwajib dalam menggali atau mencari apa saja yang baik dan bermanfaat, dari peninggalan-peninggalan nenek moyang kita. Sehingga tiap kali kita ingin berbicara tentang harta-harta terpendam ini, apalagi yang berhubungan dengan soal-soal sejarah dan kebudayaan, mau tidak mau dan meskipun dengan perasaan penuh curiga, kita terpaksa dengan mata yang ditajamkan mengikuti alinea demi alinea peninggalan penulis bangsa asing, sekalipun catatan itu berasal dari seorang pengkhianat atau musuh bangsa Indonesia. Seakan-akan hanya dari buku-buku dan catatan-catatan itu saja,kita boleh mendapatkan keterangan-keterangan dan bahan-bahan sejarah. Pada hal kita semua dapat meyakini, bahwa di sekeliling kita berada sangat banyak benda-benda dan obyek-obyek sejarah yang dapat berceritera, boleh menjelaskan kepada kita, segala apa yang pernah ada dan hidup, atau pada yang pernah ada dan hidup, atau pada abad-abad yang silam asal saja kita ada kerelaan berkorban dan mau berusaha.

Beberapa majalah atau penerbitanpenerbitan khusus, sekali-sekali pernah menulis tentang riwayat Perang Tondano ini. Tetapi banyak kali, tulisan-tulisan itu hanya sekadar untuk memadat-madatkan halaman saja, atau boleh jadi karena nafsu dari sementara penulis ceritera pendek. Sehingga dengan demikian, tidak ada sarna sekali pengupasan-pengupasan atau tekanantekanan yang dapat menimbulkan daya dorong bagi setiap pembacanya, untuk mengadakan penyelidikan-penyelidikan lebih mendalam, penyimpulanpenyimpulan
yang ilmiah, yang dengan demikian kelak pada suatu waktu kita dapat menempatkan perang patriotik yang heroic nenek moyang suku Minahasa ini, pada tempatnya yang wajar. Di samping mereka yang cari muka dan cari untung, sementara orang, ada juga yang kelihatan bersemangat suka mengungkit-ungkit Perang Tondano pada tulisan-tulisan atau pidato-pidato. Tetapi lebih celaka daripada golongan yang kita sebut di atas, karena sebagian besar dari orang-orang ini, hanya ingin meriaburnaburkan daerahisme atau sovinisme suku yang mengacau.

Kami merasa wajib, menyampaikan salut tinggi kepada mereka yang bermaksud baik dan jujur dalam membeberkan riwayat ini. Tetapi tidak terhadap orang-orang yang bermaksud buruk dan mencari untung. Ada beberapa sebab yang mengakibatkan perang perlawanan rakyat Minahasa ini menjadi tidak demikian dikenal, dibandingkan dengan perang-perang perlawanan perlawanan di banyak daerah, meskipun peristiwa ini, tidaklah kalah nilainya dengan pemberontakan-pemberontakan anti Kolonial di daerah-daerah lain. Dengan demikian, iapun tidak dapat dipisahpisahkan dari lingkaran nyala api anti penjajahan di tanah air kita, seperti juga perang Aeeh, perang Jawa, perang Ambon dll.

Karena perang perlawanan rakyat Minahasa yang lebih dikenal dengan sebutan Perang Tondano, yang berkali-kali terjadi selama satu setengah abad, hanya berulang-ulang berkobar di tempat yang sarna, yaitu suatu daerah sempit yang dilingkungi pegunungan dan jauh dari lalu lintas dunia pada kala itu 4). Mungkin karena nenek moyang suku Minahasa, tidak mengenal tulisan, sehingga dengan demikian riwayat atau ceritera, antaranya juga Perang Tondano ini, hanyalah disampaikan secara lisan dan bukan tertulis. Padahal pemerintah colonial sangat melarang orang-orang tua di Tondano dan sekitarnya untuk menceriterakan riwayat-riwayat atau kisah-kisah kuno yang mengandung unsur-unsur anti penjajahan, kepada anak cucu mereka.

Hampir semua catatan atau tulisan dari penulis-penulis Belanda adalah mengacau, memutar balikkan keadaan. Biasanya mereka mendapatkan bahan-bahan tulisan itu dari kakitangan-kakitangan mereka, atau golongan penjilat. Sedangkan tulisan-tulisan dan catatan-catatan tersebut pada umumnya tidak pula pernah dikritik atau dikoreksi oleh rakyat, karena pada zaman-zaman itu, rakyat pada umumnya masih buta huruf dan tidak mengerti bahasa asing pula.

Demikian pula semua barang-barang kuno, seperti karai ne waranei 5) mpamoras 6), mpisou labo 7), mbengkau 8), nsompoi 9), dan benda-benda atau obyek lain yang mengandung riwayat dan kisah, telah habis dirampas atau dimusnahkan oleh penguasapenguasa penjajah. Salah satu contoh saja, yaitu menghancuran makam Panglima Korengkeng; sehingga sampai sekarang tidak diketahui lagi dimana adanya makam tersebut 10).

Selanjutnya beberapa bukti atau bahan-bahan, dokumen-dokumen, silsilah keluarga yang masih asli milik rakyat Tondano dan sekitarnya, telah habis hilang di tangan pemimpin-pemimpin yang telah menjadi kakitangan penjajah. Ketika buku kecil ini akan disusun, banyak peminat menyarankan supaya uraian-uraiannya disusun sedemikian rupa dan sedapat mungkin melemah-lemahkan dan malah dirasa lebih baik menghilangkan sama sekali beberapa catatan, karena jika tidak demikian nantinya, isi buku ini bagi satu dua orang akan kurang menggembirakan, tidak menarik dan sebaliknya bahkan boleh jadi menyinggung. Bagi kami saran demikian tentu saja diterima dengan sepenuh hati. Karena kami sendiri sedikitpun tidak melihat manfaat mengorek-ngorek atau menggali-gali sesuatu untuk kerugian orang lain.

Kami menyusun buku ini dari lembar-lembar pertama hingga tamat, dengan nafas persatuan dalam pengertian yang luas dan penuh, jauh sama sekali dari cara menulis yang seenaknya, apalagi dengan maksud memfitnah suatu golongan, keluarga atau perseorangan. Tetapi dalam hubungan dengan soal ini, kami mengharapkan juga, supaya kepada kami, janganlah dipaksakan suatu cara menulis semacam penjajah, yaitu yang putih dihitamkan dan yang salah dibenarkan.

Kami rasa persoalannya sederhana saja : "Marilah kita dengan ketabahan dan obyektifitas menoleh ke arah sejarah yang sedang sayup-sayup menghilang itu sebagaimana adanya. Janganlah kita menuntut nenek moyang kita yang hidup pada dua, tiga, empat ratus tahun yang lampau, di dalam alam masyarakat bimbingan Taksikela 11) dan V. O. C. 12) suatu moral dan semangat kewarganegaraan yang berjiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, berkobar-kobar dengan Manipol Usdek dan sebagainya. Camkanlah ! Bahwa masyarakat kita sekarang inipun, masih belum dapat bebas lepas sama sekali dari segala pengacauan Nasional, kebejatan, semangat menipu, menjilat, pemakan suap dan segala penyakit kotor lainnya sisa-sisa penjajahan.

Akhirnya harapan kami ialah, jikalau saja buku kecil ini telah dapat menghasilkan koreksi-koreksi atau kritikan-kritikan yang bersungguh-sungguh dari para peminat yang benar-benar jujur, itulah suatu isyarat, bahwa usaha kami yang sederhana ini, telah mendekati sasarannya.

Tondano, Agustus 1961
Salam takzim


Penyusun
Girot(h) Wuntu



1. Mindanau
2. Ceritera
3. Nyanyian atau syair
4. Biasanya petualang-petualang yang mengikuti kapal-kapal dan suka mengumpulkan catatan-catatan, kurang memasuki daerah-daerah pedalaman atau jauh dari pelabuhan-pelabuhan
5. Pakaian perang
6. Senapan
7. Parang atau pedang
8. Tombak
9. Kantong-kantong yang berisi benda-benda kuno atau jimat-jimat .
10. Kira-kira pada tahun 1850 waktu pelebaran jalan-jalan di kota Tondano, makam Panglima Korengkeng yang terletak di tengah kota, telah dibongkar pemerintah Belanda.
11. Spanyol, kata ini mungkin berasal dari sebutan Castela atau Castilian yaitu nama suatu daerah di Spanyol. Mungkin pula berpangkal pada kata Tlascala yaitu nama sebuah kota di dataran tinggi Mexico. Kota ini pernah dikunjungi oleh orang-orang Spanyol sebelum mereka datang ke Minahasa.
12. Verenigde Oost Indische Compagnie. Persekutuan yang diberi hak monopoli oleh pemerintah Belanda untuk berkuasa di Indonesia. Termasuk mengangkat Gubernur Jenderal.

1 comments:

Arrow Arbalaster February 9, 2016 at 2:22 AM  

Sejarah yang dibuat2...bekin malo orang minahasa saja ini kisah benteng moraya. Kuburan waruga pejuang minahasa iya, benteng hahaha ngakak.


Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts