Loading...

Sunday, November 29, 2009

SEJARAH MINAHASA DAN MANADO

Jawaban Atas Koreksi Ir Joutje A Koapaha terhadap
PENELUSURAN SEJARAH MINAHASA DAN MANADO 
Babak II

Drs. Joutje Sendoh


Berarti supremasi sebagai penangkar burung walet dan hanya di Pulau Bangka Leluhur Bantik berani berperang dan mengusir para pembajak tersebut, berarti tanah Minahasa hanyalah pulau-pulau saja di sekitar tanah Minahasa dan produk/hasil-hasilnya burung walet saja, inilah yang paling tepat senjata makan tuan.

Selanjutnya mengatakan Pulisan (Buku M Kiroh 1968 dan Pdt Frederik Abuthan STh 1977), bandingkan dengan bukunya N Graafland hal 79 (bukan terjemahan Jo Kulit) serta makalahnya F S Watuseke tahun 1982 berkata: “Nama-nama tetap bagi puak-puak di Minahasa; sementara itu ada pula orang-orang yang bermukim di sekitar Tanjung Pulisan oleh karena banyak gangguan di sana maka mereka beralih kepeda-laman kemudian menyusuri sebuah sungai besar dan mudik sehingga mereka tiba pada se-buah danau yang besar.

Mereka menempati tepi Danau Toudano di sekitar sumber sungai yang besar, olehnya mereka me-namai dirinya orang air atau dalam bahasa daerah mereka disebut Tou-en-Dano yang sampai saat ini masih diucapkan dalam bahasa mereka Toudano dan dalam bahasa resmi disebut Tondano. Bukan saja dengan memahami pendapat N Graafland dan FS Watuseke pendapat ini benar perlu tokoh-tokoh tua Pakasaan Tonsea yang menghadiri musyawarah membentuk MKM tanggal 17 September 1985 bertempat di Bukit Inspirasi Tomohon seperti Bapak Bony Lengkong, Bapak Emor Sumampouw, Bapak Jack Sompotan, Bapak Ganda dari Tatelu, Bapak Langelo dari Bitung, Bapak Luntungan dari Likupang dan lain-lain mendukung pendapat ini.

Juga soal arti Pulisan pendapat Koapaha itu mungkin dalam ba-hasa Bantik tetapi dalam bahasa Minahasa Tua tidaklah demiki-an Pulisan = saling membunuh (dalam bahasa daerah se mepepulisan = saling baku bunuh) sebagai intermeso dalam pertemuan itu Bapak Emor Sumampouw, mantan Hukum Besar Tonsea menceritakan bahwa di tempat itu dahulu kala ada satu pusat pertempuran puak Tonsea dan puak Tondano dengan Mangindanou sebelum mereka pindah kesekitar Tondano, banyak sekali yang mati dari Mangindanauw lalu oleh puak Tonsea dan puak Tondano buang mayat-mayat mereka ke laut dan pantainya yang berjuang ada gua-gua lalu mayat-mayatnya menjadi makanan ular dan burung-burung bangkai. Itulah tempat itu dianggap keramat dianggap tempat berbahaya jika teriak-teriak, tidak boleh main-main di situ dan sangat menakutkan menjadi salah satu alasan puak Tondano meninggalkannya lalu pindah bermukim di Toudoud.

Soal referensi dari M Kiro 1968 dan Pdt Frederik Abuthan, STh baru dibaca judulnya “Sejarah Bantik sebagai Orang Bantik” wajar ungkapannya namun harus ada materi pembanding. Lalu jika berbicara asal-usul nama-nama (fam) orang Minahasa seperti Lombogia, Mailangkay, Sigar, Roring, Maengkom itu adalah nama-nama Tou Minahasa asli, mungkin juga terjadi perkawinan dengan puak Bantik sebab kita sudah bercampur baur.

Saya hanya mengingatkan pada Pak Koapaha jika pernah membaca bukunya Sam Weleij yang berjudul: Tountemboansch Namen Registerenz 1928, bukunya WJ Pangemanan yang berjudul: Arti nama-nama Minahasa tahun 1973 dan bu-kunya JAT Schwarz yang berjudul Tountemboansche Teksten 1907. Pada buku-buku itu terdapat arti nama-nama Tou Minahasa asli. Demikian juga tanggapan anda soal Karisoh, Umboh, bukan Sepang tetapi Sarapung ini anda keliru lagi memahaminya. Sebab itu Tou Minahasa tidak pernah berlayar kesana kemari dengan nafsu kuasa merebut menganeksasi daerah/wilayah bangsa lain.

Jadi mereka hanya mempertahankan tanah Minahasa dan menangkis serangan musuh-musuh asing yang mau merebut Tanah Minahasa jadi sangat keliru tanggapan anda jika mengatakan Kariso, Umboh dan Sarapung bukan Sepang mengarungi Laut Sulawesi, Ka-limantan Utara pergi berperang di Kepulauan Sulu. Olehnya harap dipahamilah secara teliti uraian saya terhadap Kariso, Umboh dan Sarapung sebagai pelopor mengusir perompak Laut Mangindanou di Minahasa bukan di Kepulauan Sulu.

Soal Mawuring yang anda katakan kebohongan besar dalam tulisan saya dan tidak akurat dan kontradiktif sumber tulisan saya sekali lagi coba pahami lebih cermat ungkapan kami menyangkut Walak-walak Minahasa tahun 1678 ada 23 Walak dan di Manado ada Walak Ares, Walak Manado, Walak bantik. Tahun 1825 menjadi 25 Walak, Pakasaan Manado dibagi 2 ialah Walak Manado dan Walak Mawuring, tahun 1925 Pakasaan-Pakasaan Minahasa disederhanakan menjadi 16 Walak, Walak Ares dan Walak Mawuring disatukan kembali menjadi Pakasaan Manado.

Pakasaan Bantik tetap ada dan nanti Indonesia Merdeka Pakasaan Bantik dinyatakan Keca-matan Manado luar kota. Mana yang tidak akurat dan kontradiktif hanya saja ketidakcermatan anda yang keliru lalu melintirkan tanggapan saya. Soal Pakasaan-pakasaan Minahasa silakan mengkaji bukunya DR M Brouwer berjudul “Bestuur Vormen en Bestuur Stelsel In De Minahasa 1936, DR EC Godee Molsbergen yang berjudul Gesehiedenis In De Minahasa Tot 1829 hal 55 dan Makalah FS Watuseke tahun 1982 hal 27 yang tidak ada sama sekali ialah Walak Titiwungen yang kau namakan negeri baru, itu saya koreksi sebab yang dikatakan negeri baru jaman itu ialah negeri Bahu.

Berkatalah Bapak Bony Lengkong dalam dialog dengan MKM memang kalau bicara zaman Paksaan kita harus percaya tulisan DR M Brouwner sebab dia Konteleur Belanda pertama di Minahasa, dia yang berhadapan langsung dengan mereka. Soal sindiran kejengkelan Minahasa pada bangsa Spanyol bukunya Sam Welij berkata di hal 77 maka turut cerita tuan-tuan kepala memberi luas sebesar dan sepanjang kulit seekor lembu besar tetapi tuan-tuan Kastili sudah akal-akalan, silakan kajilah bukunya Drs REH Kotambunan guru sejarah penulis di SGA Negeri Manado dan terakhir sebagai Lektor Kepala UNSRAT dalam bukunya Minahasa II dan III tahun 1985 bagaimana pemerintahan George Frederik Durr yang buruk dengan mempergunakan juru bicara Poeloewang (orang Bantik) hal 47, 48 dan 49 yang sebagai salah satu sebab utama perang Tondano III 1807-1809. Sebagai contoh singkat bukunya FS Watuseke hal 17 menyatakan: Tahun 1791-1802 masa pemerintahan Residen Durr pemerintahannya merupakan pemerintahan yang buruk.

Pemerasan dan penganiayaan berjalan dengan bebasnya. Seorang kepercayaannya Puluang juga bernama Urbanus Matheoz berasal Bantik membantunya yang banyak memutarbalikan pembicaraan sebagai juru bahasa. Kami MKM, atas nama saya menyatakan bahwa tanggapan Pak Koapaha dalam harian Komentar tanggal 3, 4 dan 6 Februari 2006 kacau balau dan membingungkan, jika tulisan ini versi Bantik kami boleh mengerti, tetapi jika tulisan ini adalah Pelurusan Sejarah Minahasa dan Manado, mohon maaf kalau kami nyatakan keliru dan sangat lemah akurasinya, autentiknya dan validitasnya. Untuk data-data pendukung pernyataan ini sebagai bahan kajian untuk kita semua Tou Minahasa apa lagi generasi muda sekarang kami kemukakan beberapa pendapat para ahli sejarah, bu-dayawan dan para pengamat sejarah dan budaya tentang masa lalu tanah Minahasa.

Bukunya F Watuseke hal. 4 Imigrasi oleh perpindahan antar pulau terbentuk puak-puak kecil: Puak Tonsawang, Puak Pasan Bangko (Ratahan dan Pasan), Puak Ponosakan (Belang), Puak Bantik dan Puak Boben-tehu atau Puak Manado. Puak Bobentehu atau Puak Manado menduduki Pulau Manado Tua dan pulau-pulau sekitarnya.

Pada sekitar tahun 1600 mereka beralih didaratan Minahasa di teluk Manado, di sebelah Selatan sungai Tondano kira-kira di Wilayah Calaca yang se-karang. Penghunian pertama ini merupakan inti kota Manado yang sekarang. Perlu dikemukakan di sini bahwa negeri baru Manado tidak identik dengan Wenang. Negeri Manado sampai kira-kira tahun 1830 hanya merupakan sebagian dari Calaca Barat dan wilayah pelabuhan dan sebelah Utara dari Pasar 45 sekarang.

Negeri Manado ini berbatasan di sebelah Timur dengan negeri-negeri Bantik, Kalabat di bawah Tondano, di bawah dan Tenggara dengan negeri Ares dan di sebelah Selatan dengan negeri-negeri baru, negeri-negeri ini terletak di luar wilayah Manado (hal 25) oleh sebab itu waktu perluasan Kota Manado tahun 1986 waktu itu penulis Anggota DPRD Kab. Minahasa, PEMDA Manado minta yang bekas Pakasaan Bantik disetujui masuk Kota Manado dengan keputusan DPRD Kabupaten Minahasa. EV Adam hal 17: Keluarga yang ke Bobentehu datang dari sebelah Timur dan bertinggal mula-mula di Pasolo. Dari sana mereka ke Baling-baling, Lembe, Bangka lalu ke pulau Bobentehu (Manarou).

Sudahlah dari zaman purba adalah perhubungan turunan dari orang-orang Bobentehu dengan orang-orang Tombulu karena perkawinan Opo Mandolang dan wanita Bobentehu Monantang Patolang Drs. R.E.H. Kotambunan hal 25 menyatakan: seperti diketahui pulau Manado Tua pulau-pulau di sekitar Minahasa pada zaman purba didiami oleh kaum pendatang Bobentehu. Raja mereka dengan gelar Kolano pernah menaklukan Suku Bolaang Mongondow, dan ia bersemayam di Ibukota Bolaang Mongondow. Tetapi kemudian Suku Bobentehu terusir dari Bolaang Mongondow, malah dari Pulau Manado Tua dan pulau-pulau yang lain, sehingga suku itu menetap di kepulauan Sangir Talaud.

Itu terjadi pada permulaan abad 17. Jadi kalau dalam beberapa buah buku disebut Raja Manado yang dimaksud ialah Raja Bolaang Mongondow, yang pernah menaklukkan suku-suku Bantik, Ratahan, Pasan, Ponosakan dan Tonsawang. Kajian MKM membenarkan pendapat-pendapat ini sebab Pak John Rahasia (Alm) sebagai sesepuh Peristiwa 14 Febuari 1946 dalam satu pertemuan berkata : Saya ke Sangir orang Sangir bilang saya bukan orang Sangir, saya ke Minahasa orang bilang saya bukan Minahasa, nanti saya membaca bukunya E.V Adam dan Drs. R.E.H Kotambunan sadarlah saya bahwa dotu-dotu kami Suku Bobentehu, itulah saya mewarisi pulau SiIaden.

Selanjutnya pemukiman Pulisan mula-mula Pdt. N Graafland (buku aslinya Jilid I tahun 1898) hal 79. menyatakan : menurut pendapat kami sebagian besar Tousingal (Toulour) tiba dipantai Utara di Tanjung Pulisan yang dibuktikan dengan hal-hal sebagia berikut:

1. Dari cerita-cerita orang pribumi.

2. Adanya kubur-kubur di Tanjung Pulisan

3. Orang-orang Tondano pada permulaan abad ke 18 datang dikubur-kubur di tanjung Pulisan untuk mengadakan Poso.

4. Pada tahun 1864 terjadi hal sifat antara orang Tondano dan orang Tonsea.

5. Di Tanjung Pulisan ada sebuah gua yang bernama Lian daripadanya terjadi nama Toulian atau Touliang nama distrik di Tondano E.V Adam hal. 17 keluarga yang ke Bantik datang dari 2 jurusan yang pertama datang dari Selatan menyusur pantai Timur lalu tiba di Tonsea langsung ke Utara dipimpin oleh Angkol, Maidangkai, Katang dan Mondigie. Yang kedua datang dari Pontak langsung ke Senduk dan mendirikan negeri diatas gunung Bantik dekat Warembungan. Akhirnya mereka turun ketepi pantai mendirikan negeri Malalajang dan Kelasei.

Makalah F.S Watuseke tahun 1982 : Puak Bantik datang sekitar abad 16 atau awal abad ke 17 dan memukimi wilayah kecil sebelah Utara dan sebelah Barat Daya kota Manado yang sekarang.

Drs. R.E.H Kotambunan hal. 9 : Suku Bantik berlainan sekali bahasa, adat kebiasaan dan roman muka dari suku-suku lain di Minahasa. Menurut hadis suku Bantik tinggal dahulu di Bolaang. Sebagai tentara bantuan dari Bolaang Mongondow mereka berperang melawan suku-suku di Minahasa. Pada hal 7 : Ada sepuluh suku yang terdapat di Minahasa sekarang yaitu : suku-suku Tombulu, Tonsea, Toulour, Tontemboan, Tonsawang, Bantik, Pasan, Ponosakan, Sangir Talaud dan Bajo.

Kelima suku-suku terakhir ini bukanlah suku asli MInahasa. Suku Bantik dan Bentenan (Pasan) berkeluarga dengan suku Sangihe dan suku Ponosakan berkerabat dengan suku Mongondow. Kajian MKM membenarkan setelah observasi dilapangan sebab sampai sekarang ini di Bolaang Mongondow ada Kampung Bantik. Bukunya F.S Watuseke hal. 15. tahun 1750 dari orang-orang Borgo (Bourgorij) di Manado dibentuk pasukan penembak yang terdiri dari 60 orang. Pasukan ini diperlukan untuk mencegah perompak yang berasal dari Filipina tahun 1777. Bajak Laut Mangindano mendarat di Manado dengan menumpang 30 buah kapal. Beberapa rumah dibakar mereka dan ketika hendak menyerang benteng, mereka disambut dengan meriam dan senapan oleh orang-orang Borgo. Kemudian mereka tidak pernah menyerang lagi. Pada hal. 16 tahun 1789 persengketaan Walak Kakaskasen dan Walak Bantik yang ke 2; Kepala Walak Bantik Samola ditawan.

N Graafland dalam bukunya “De Manadoresen, Bijdragen Tot de Talland en Volkenkunde Van Nederland-Indie 1868 hal. 382-393 : Kemudian Raja Manado (Bobontehu) pada satu waktu pernah menaklukkan daerah bagian Teluk Tomini itu lalu raja itu mengawini seorang putri raja dari teluk Tomini itu kemudian mereka berkembang jadi banyak dalam satu waktu membawa seluruh pengikutnya ke Manado. Pada suatu saat Raja tersebut dikalahkan oleh Raja Loloda Bolaang Mongondow. Seluruh pengikutnya yang berasal dari Teluk Tomini kawin-mawin dengan orang Minahasa lalu mengelok ke daerah yang aman disebelah Timur (Tenggara) Minahasa dan merekalah yang dikenal sebagai Suku Pasan ialah daerah Ratahan dan sekitarnya sekarang ini.

Pada tahun 1987 waktu penulis dan Anton Tenges Anggota DPRD Kab. MInahasa dengan kapal laut dari Jakarta singgah di Toli-Toli mau menginap seminggu dengan maksud ke Buol mengecek kebenaran Raja yang pernah menguasai sekitar Teluk Tomini sebagaimana data-data yang ada dari Raja Buol yang terkenal, wilayah kekuasaannya Buol Toli-Toli diabad ke 13. niat itu kita urungkan sebab kebetulan naik dari Toli-Toli menuju ke Manado sdr. Che Gosal Kepala Kehutanan Buol Toli-Toli yang biasa berdialog dengan anak Raja Buol, menyatakan bahwa sebagian keluarganya dari adik wanita Raja Buol itu kawin dengan Waraney Minahasa berjasa mengalahkan Raja-Raja sekitar lalu pada satu saat memboyong keluarganya pulang ke Manado.

DR. A.B Meyer dalam bukunya “Album Van Celebes Typem, Circa 250 Abilldungen, Auf 37 Tafeln, hal. 2 berkata : “Ueber die Minahasa ist swar breits viel víónffehtlicht worden aber ebenfalls noch nichts Umfassends. (Ich nenne S.B das duch das Missionars N. Graafland : De Minahasas, 1867, 2 Bänds, und schilderung der ung der Eingeborenen durch R. Van Eck in “Indische Girds Juli 1882”. Terjemahannya : tentang bahasa Minahasa sungguh-sungguh telah sangat terkenal walaupun belum semuanya termasuk (sebagai contoh saya sebutkan buku dari Missionaris N Graafland, De Minahasa, 1867 Ban 2 dan lambang-lambang penduduk asli, tulisan R Van Eck “Indische Gids” Juli 1882).

DR. Mieke Schoteen dalam skripsi “Kulturale Anthropologyi” Februari 1978, Vrije Umversiteit Amsterdam : “Naar het pantheon van de Minahasassers is noit een good ondersoek gedaan toen dit nog mogelijk was. Terjemahannya : Pada waktu itu tidak pernah diselidiki tentang kebanggaaan orang-orang MInahasa padahal penyelidikan ini memungkinkan. Najoan J.S bukunya “Minahasa” dari hal tempatnja keadaannja dan lain-lain menulis : sesoei tjatatan jang ada pada akhir abad ke 19 jadi tahoen 1875 pendoedoek tanah Minahasa jang soedah memeloek agam Kristen sebanjak : Tonsea ± 25.000 djiwa, Toemboeloe ± 36.000 djiwa, ± 37.000 djiwa, Tountemboan ± 60.000 djiwa, Pasan-Ponosakan dan Tonsawang ± 9.880 djiwa, Bantik ± 3.600 djiwa. Semuanja berjoemlah 171.480 djiwa. Djoemlah ini adalah 50 % dari djoemlah pendoedoek tanah Minahasa seloeroehnja pada saat itoe, sebab setengahnja masih memeloek agama asli. DR. E.C Godee Molsbergen judul bukunya, Geschiedenis de Minahasa tot 1829, hal. 55 : Kemudian menjadi 23 Walak ialah :

1. Walak Ares

2. Walak Klabat diatas

3. Walak Bantik

4. Walak Klabat dibawah

5. Walak Tomoon

6. Walak Sarousong

7. Walak Tombariri

8. Walak Tondano Touliang

9. Walak Toudano Toulimambot

10. Walak Toukiboet Bawah

11. Walak Toukimbout Atas

12. Walak Roemoon

13. Walak Langouwan

14. Walak Kakas

15. Walak Remboekang

16. Walak Tompaso

17. Walak Toubasian

18. Walak Manado

19. Walak Tonsawang

20. Walak Tonsea

21. Walak Kaskasen

22. Walak Pasan Datahan

23. Walak Ponosakan



Bandingkan dan bukunya DR. M. Brouwer hal 15 dan dari 23 Walak tidak ada sama sekali Walak Titiwungen. Jadi asal usul Titiwungen menurut anda hasil kolusi dengan Spanyol yang sangat dibenci oleh Tou Minahasa.

Dari kajian-kajian mengenai bahasa asal-usul, budaya, pemerintahan, agama, adat istiadat dan lain-lain, dapatlah kami kemukakan hasil-hasil pendapat tersebut oleh MKM benar. Mohon materi-materi ini dikaji sebagai library research dan dengan pertimbangan korelatif observasi lapangan sebagai field research bukan tampung semua cerita setiap pribadi orang lalu dijadikan patokan untuk diperbenarkan. Fakta dan data analisa secara cermat pakai literatur pembanding dari situ tarik hipotesa awal yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menangkal kritik dan koreksi yang muncul dimasyarakat baik dalam ceramah atau temu ilmiah lainnya. Karena dengan fakta autentik dan data autentik sampai cerita perorangan yang akurat barulah kredibel tidak membingungkan.

Sebagai contoh jika kami mengikuti cerita-cerita tua (oral tradition) Minahasa sungguh banyak dalam pengkajian MKM, olehnya kami mengambil kesimpulan dengan menganalisa dari segi antropologi, geneologi, etimologi, kenaramen (adat istiadat) budaya dan geografi, Minahasa dulu, kami nyatakan sangat unik. Sebab tata hidup dan tata masyarakat Minahasa dulu terjadi percampur bauran antara ritus, adat istiadat (kenaramen) dan legenda Tou Minahasa, sulit dipilah-pilah karena kita kurang pengamat dan pemerhati belaka, butuh kajian objektif. Soal burung Manguni atau burung saktinya hanya milik Tou Bantik, ungkapan saya doyot bahasa Tonsea, loyot bahasa Minahasa (Tombulu, Toulour, Tountemboan) jika dikatakan tidak ada literaturnya mungkin versi Bantik, tetapi karena mahluk burung Manguni keramat bagi Tou Minahasa jelas literaturnya.

Bukunya E.V Adam, hal. 17 dan 18 uraiannya sebagai berikut : adalah 2 macam tanda bunyi burung. Pertama burung siang disebut Waraendo, Totombara, Kumekeke, kedua burung malam yang disebut Wara Wengi Loyot (Doyot) Kembaluan.

Burung siang menurut keterangan dan cerita bunyinya ada 4 jenis :

1. Lowas = Kééké Rondor (rendai) yakni tertawa terus menerus. Tandanya tiada mengganggu perasaan.

2. Kééké Tenga Wowos yaitu tertawa sambil-sambilan tidak terus menerus. Tandanya tiada mengganggu perasaan.

3. Mangolo (mangoro) yaitu bunyi tertawa parau, bunyinya membimbangkan. Tandanya tiada menyenangkan.

4. Keté (keras) yaitu bunyi nyaring dan keras, sekaligus dan agak panjang. Tandanya memberanikan kalau bunyi itu sebelah kirinya si pendengar dan sebaliknya tanda itu menakutkan kalau kedengaran sebelah kanan. Pedengar-pendengar harus berhenti seketika, apabila mereka sedang dalam perjalanan.

Burung malam juga memberikan tanda bunyi 4 macam :

1. Manguni = Manguni Rendai yakni bunyi yang merdu tandanya menyenangkan.

2. Imbuang = yaitu bunyi hampir-hampir merdu tetapi agak putus-putus, sebentar kedengaran dan sebentar sayup-sayup. Tandanya tidak menggangu perasaan.

3. Paapian = yaitu bunyi perlahan-lahan dan parau. Tandanya bunyi ini membingungkan.

4. Kiik = yaitu panjang dan keras, sekali saja. Kalau bunyi itu arah ke kiri, tandanya memberanikan dan apabila bunyi itu dari sebelah kanan, atau dari hadapan, sangat menakutkan. Si pendengar perlu waspada dan berichtiar.

Penjelasan : Lowas = Manguni

Kééké Tenga Wowos = imbuang

Mangoro = Paapian

Keté (keras) = Kiik

Pdt. Prof. DR. W.A Roeroe : Judul bukunya, Injil dan kebudayaan di tanah Minahasa, tahun 2003 hal 163-180. Beberapa kutipan saja dari hal 163-180 saya tonjolkan, DR. Willy Smits ahli lingkungan hidup, Konsultan Dept. Kehutanan RI serta Guru Besar Tamu Universitas diberbagai manca negara mengatakan jenis burung ini sudah hidup lebih 50 juta tahun jadi 5 kali lebih tua umurnya daripada manusia, sebab itu dia lebih berhikmat daripada manusia, dalam suatu diskusi ilmiah dan teologis tahun yang lalu. Beliau menjelaskan keterangan biologis tentang burung Manguni, jenisnya, badan dan bulu-bulunya serta cara terbangnya, tentang panca inderanya, makanan utamanya dan tempat perteduhannya.

Pak Pdt. Prof. DR. W.A Roeroe menyatakan burung Manguni dalam kebudayaan Minahasa. Burung Manguni bagi para leluhur Tou Minahasa adalah rekan hidup sehari-hari, dianggap sebagai pengantara antar manusia dan Dia Yang Maha Tinggi dan Maha Kaya serta yang berkemurahan. Dengan demikian bagi para leluhur kita, sama sekali bukan burung hantu sebagai simbol GMIM. Ialah pemberi isyarat atau kabar kepada mereka lewat bunyi dan nyanyiannya apalagi waktu malam hari.

Pahlawan Nasional kita DR. Sam Ratulangi pun dari pengalaman saya tentang sebagian dari tulisannya sangat menghargai warisan para leluhur kita ini dalam kebudayaan kita. Oleh sebab itu jangan diklaim oleh satu sub etnis, sekali lagi pendapat anda menurut sub etnis Bantik bukan versi seluruh Tou Minahasa.

Ada beberapa hal lagi yang perlu dikritisi seperti Maadon itu tak ada kaitan dengan Manado tetapi nama dan rasa kekeluargaan negeri-negeri Minawerot Tonsea dahulu. Istilah Loloda itu jelas dari raja-raja Bolaang Mongondow dan tidak dikenal dalam budaya Minahasa sebab itu bahasa Mongondow, apalagi sudah memBantikan nama-nama orang Minahasa asli, berarti muncul image nenek moyang tou Minahasa adalah berasal dari Bantik.

Ungkapan anda menyatakan dotu Ruruares membuka pemukiman seluas seekor kulit sapi dipotong-potong menjadi pintalan (tali) dan seterusnya, Makalribe cucu Toar dan Maynalo anak Toar Lumimuut dari sumber mana itu yang tidak jelas dan tidak logis sebab sumber-sumber literatur Minahasa baik penulis asing maupun penulis tou Minahasa serta oral tradition jelas sekali keturunan Toar Lumimuut.

Jika ada literatur Drs. R.E.H. Kotambunan, bukunya E.V. Adam, bukunya Soemaijkoe A.M. Tampenawas, bukunya J.S. Nayoan, bukunya A.L. Waworuntu bukunya Mangindaan L, Bukunya H.M. Taulu bukunya F.S. Watuseke, bukunya A.F. Lasut dan bukunya I.W. Palit cobalah baca didalamnya dan pasti tahu banyak apa dan siapa tou Minahasa. Mohon jangan melaksanakan pelintiran menyangkut Pak Kelly Rondo sebagai Wakil Ketua kami DPRD Kab. Minahasa periode 1985 sebab tidak ada dalam tulisan saya beliau adalah pribadi yang hidup pada tahun 1428 dan juga HUT Kab. Minahasa tidak ditetapkan oleh pejabat pemerintah Minahasa yang hidup pada tahun 1428, itulah kekeliruan dan ketidak cermatan anda memahami tulisan saya.

Apalagi soal pendapat DR. Sam Ratulangi dan DR. J.G.F Riedel mengenai nama Manarouw dan Manaror (bahasa Tountemboan) itu bahasa Minahasa Tua yang benar, bukan bahasa Tountemboan saja apa lagi DR. Sam Ratulangi orang Tondano asli tidak mungkin salah menulis bahasa Minahasa asli. Coba bertanya-tanya pada seluruh tua-tua, tokoh-tokoh Tonsea jika negeri Kema dahulunya Miyagon dan leluhur Bantik mendirikannya, apalagi serta ditambah disanasini soal Manado dengan Maadon lebih keliru lagi sebab Maadon adalah nama negeri-negeri Minawerot dahulu.

Kata Utu bukan bahasa Tombulu tetapi panggilan kesayangan anak laki-laki dari etnis Toudano, saya menganalisa anda tidak menguasai bahasa asli Tou Minahasa akibatnya penulisannya terjadi kerancuan menyebut dan menulisnya disana-sini. Jika seandainya anda mengatakan sudah terjadi percampurbauran dan kawin mawin antar sub-etnis Minahasa setelah jadi satu (Minahasa) itu yang akurat dan dapat dibenarkan logis dan masuk akal.

Akhirnya inilah tanggapan balik yang berguna bagi semua pihak dan sidang pembaca, apalagi generasi muda Tou Minahasa, pahami dan nilailah sendiri materi-materi, sumber literatur serta hasil pengkajian MKM selama berdirinya. Selanjutnya apapun yang nanti anda komentari inilah jawaban akhir kami melalui media cetak, kecuali dalam forum-forum, seminar, temu ilmiah bolehlah kita saling adu argumentasi dan mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan, sebagai akibat dari tuduhan-tuduhan yang anda lontarkan.


Manado, 09 Februari 2006

Drs. Joutje Sendoh


Sumber: Harian Komentar

0 comments:


Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts