Loading...

Saturday, November 27, 2010

Refleksi Teologi Kerang

Makna Penderitaan di Sekitar Danau Tondano

Cerita tentang sebuah anak kerang mengundang rasa simpatik dari banyak orang, termasuk seorang pemerhati. Ia yang mampu menelusuk ke berbagai penderitaan yang dihadapi oleh banyak orang di dunia ini. Ia juga yang menggemburkan tanah hati untuk kekuatan bathin, kemudian menaburkan benih-benih harapan. Apa jadinya dunia ini tanpa siraman kata-kata seperti itu...?

Cerita tentang sebuah anak kerang. Anak kerang yang merasakan derita, tak punya penghiburan, namun memperoleh kata-kata penguatan. "Tuhan tidak memberikan pada kita...sebuah tangan pun...terimalah itu sebagai takdir alam."

Memang penderitaan itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia; tak hanya seorang Howard Thurman yang menyadari hal ini. Namun, apakah kita juga berpikir seperti dia, bahwa tanpa ada penderitaan, tidak ada KEBEBASAN? Apakah kita hanya bisa menerima penderitaan itu, tanpa melakukan apa-apa? Tidak! Penderitaan itu harus mendorong kita untuk bebas, lepas, dan merdeka!

Penderitaan akan selalu ada di mana saja. Ia ada rumah kita, berbaring di tempat tidur kita, dan makan bersama kita, bahkan ia bisa kita lihat di bayangan kita sendiri. Namun, kita harus ingat bahwa ia bukan seorang teman, sekalipun darinya kita bisa belajar hikmat dan kebajikan.

Ada begitu banyak penderitaan di dunia ini. Dan ketika kita melihatnya di mata para petani ikan di Danau Tondano, atau masyarakat di seputar Danau Tondano yang setiap tahun dilanda banjir sejak tahun 80an sampai sekarang ini, kita perlu lebih dari sekedar “menghibur.” Kita perlu menderita bersama-sama dengan mereka, supaya kita bisa merdeka dengan mereka.

Rasa iba yang dalam bahasa Inggris disebut “compassion” berasal dari bahasa Latin yang berarti “bersama-sama menderita.” Kita perlu merasa iba dengan mereka dalam arti yang sebenarnya.

Ketika Om Alex mengatakan ”Semestinya akhir November ini kami panen. Mau bayar dengan apa utang di bank?” apakah kita bisa merasa iba dengan keadaan yang dihadapi Om Alex, atau dengan ratusan petani ikan lainnya di Danau Tondano? Apakah kita bisa merasa iba dengan dengan anak-anak yang setiap tahun harus kehilangan halaman tempat bermainnya, dan memandangi rumahnya yang membusuk karena dilanda banjir?

Kalau kita dan pemerintah merasa iba (menderita bersama) dengan mereka yang mengalami penderitaan ini, maka janganlah kita semua menghibur saja. Tanyakan apa yang bisa kita lakukan supaya kita semua bebas, lepas, dan merdeka bersama-sama mereka.

Adanya penderitaan menantang kita untuk mencari tahu apa yang salah,
apa yang perlu dilakukan,
apa yang perlu diperbaiki,
apa yang perlu dipersiapkan,
apa yang perlu dihindari,
apa yang perlu diantisipasi,
apa yang perlu didoakan,
dan semua hal lainnya,
termasuk apa yang perlu kita miliki ketika melihat penderitaan,
yaitu kerelaan untuk merasakan penderitaan itu,
dan merdeka bersama orang-orang yang menderita.

0 comments:


Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts