Thursday, October 14, 2010

Pakasaan Toudano-Minahasa

Banyak tulisan mengenai sejarah Minahasa, baik dalam bentuk buku, makalah maupun yang dituangkan di berbagai website, keliru dalam memahami keberadaan Pakasaan1 Toudano, sehingga dengan sendirinya mengurangi pemahaman tentang Minahasa secara utuh.2 Salah satu penyebabnya adalah variasi-variasi dalam tradisi mengenai keberadaan sub-etnis3 Minahasa yang paling resisten terhadap Belanda sebelum kalah dalam Perang Tondano 1808-1809 ini.

Perlu dipahami bersama bahwa tradisi-tradisi yang beredar secara lisan dalam masyarakat tradisional Minahasa, baik yang kemudian telah ditulis atau yang belum ditulis, telah melalui proses sublimasi yang lama, sehingga melahirkan versi-versi yang tak jarang simpang siur antara satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan oleh tidak ada (atau hilangnya) tradisi menulis pada masyarakat purba Minahasa, ketidak-stabilan yang dihadapi kelompok-kelompok masyarakat oleh serangan perompak, peperangan antar-suku atau perpindahan tempat tinggal yang sering terjadi. Kebanyakan informasi yang diperoleh dari masa lalu adalah melalui tradisi lisan yang dilestarikan secara turun temurun terutama melalui pempimpin agama atau pemimpin adat.

Dari Mana Muncul Pakasaan Toudano?

Apakah Pakasaan Toudano mengambil bagian dalam apa yang disebut dengan Pinawetengan u nuwu atau Pinawetengan um posan di Watu Pinawetengan? Hal ini merupakan salah satu titik perbedaan antara penulis-penulis sejarah Minahasa.

Untuk menyelidiki hal tersebut di atas, saya mengajak kita melihat beberapa tradisi tentang asal mula sub-etnis Toudano, kemudian menyelidiki syair lagu kultik Minahasa tentang keturunan Toar Lumimuut, dan juga menganalisa bahasa suku-suku utama Minahasa.

Tradisi
F. S. Watuseke menyebut tiga suku dalam Musyawarah Pinawéténgan, demikian juga dengan R. E. H. Kotambunan (mengutip Graafland).1 Menurut mereka Tombulu, Tonsea, dan Tontemboan merupakan suku-suku yang mulanya menempati tanah Malesung. Toudano, atau yang disebut juga Tounsingal menurut nama Tona’as Singal yang memimpin mereka, nanti datang ketika mereka mendarat di Tanjung Pulisan, dan kemudian oleh karena gangguan yang mereka alami di tempat itu, masuk ke pedalaman dan tinggal di dekat danau yang besar sehingga dinamai Toudano.2 Dalam tradisi ini tidak ada keterangan tentang siapa Singal dan dari mana asal usulnya; apakah ia mempunyai keterkaitan dengan tanah Malesung sebelum sampai ke Tanjung Pulisan atau tidak sama sekali.



Lindungi Danau Kita dengan Menjaga Hutan Kita. Jangan biarkan ini terjadi!

http://www.wepa-db.net/pdf/0712forum/presentation26.pdf

Popular Posts